Kepri | beritabatam.co : Kinerja kredit di bank perkreditan rakyat (BPR) dan BPR syariah Provinsi Kepulauan Riau menunjukan trend yang meningkat. Berdasarkan data yang dirilis OJK peningkatan di triwulan kedua tahun 2019 meningkat 13,91 persen (year on year/yoy).
Sebagaimana disampaikan Deputi Ditektur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 5 Sumatra Bagian Utara, Uzersyah dalam acara media gathering di Yogyakarta, Jumat (13/09/19).
“Pertumbuhan kredit BPR di Kepri tertinggi di regional 5 Sumbagut yakni 13,91 persen. Sedangkan di Riau 7,34 persen, Aceh 6,60 persen, Sumatra Utara (Sumut) 5,24 persen, dan Sumatra Barat (Sumbar) tumbuh 4,97 persen,” kata Uzersyah, dikutip dari laman mediacenterbatam.
Yang menggembirakan, kredit BPR di Kepri menempati angka tertinggi, yaitu Rp 5.592 miliar. Disusul Sumbar Rp1.456 miliar, Sumut Rp 1.345 miliar, Riau Rp 994 miliar, dan Aceh Rp 360 miliar.
Tak hanya dari sisi kredit BPR di Kepri, Non Performing Loan (NPL) BPR/BPRS di Kepri juga menunjukkan angka yang cukup baik.
“Dari sisi NPL (non performing loan), BPR/BPRS Kepri juga tergolong lebih baik dari provinsi lain. Meski masih di atas 5 persen, yaitu 7,95 persen. Sedangkan Sumut 7,34 persen, Sumbar mencapai 12,20 persen, Aceh 12,88 persen, dan Ruay 16,27 persen,” papar mantan Kepala OJK Kepri ini.
Sedangkan untuk NPL perbankan umum di Kepri, menurut Uzer, tertinggi di regional 5. Angkanya yaitu 4,33 persen. Sementara daerah lain masih di bawah 3 persen.
NPL (Non Performing Loan) adalah salah satu indikator kesehatan aset suatu bank. Indikator tersebut dapat berupa rasio keuangan pokok yang mampu memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, rentabilitas, risiko kredit, risiko pasar, serta likuiditas. (MCB)














Discussion about this post