Batam | beritabatam.co – Tiga dosen Universitas Putra Batam (UPB) merancang solusi inovatif untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja nelayan pesisir Batam. Melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat PKM, para akademisi ini mengintegrasikan teknologi Internet of Things IoT dan sistem ergonomi kerja bagi nelayan lokal.
Gagasan tersebut dipaparkan dalam dialog interaktif di RRI Batam, Rabu (09/09/26) pagi. Ketiga akademisi tersebut adalah Sri Zetli, ST., MT. dari Dosen Teknik Industri, Pastima Simanjuntak, S.Kom.,M.Si dari Dosen Teknik Informatika, dan Erlin Elisa,S.Kom.,M.Kom. dari Dosen Sistem Informasi.
Untuk mengatasi risiko cuaca dan kecelakaan laut, tim dosen UPB mengembangkan perangkat IoT portabel berukuran sekitar 15 sentimeter yang terintegrasi dengan GPS Tracker dan Panic Button. Erlin Elisa menjelaskan perangkat ini dirancang sederhana agar tidak menyusahkan pergerakan nelayan di atas perahu.
“Jika ada risiko bahaya, nelayan hanya perlu menekan tombol selama satu detik, maka orang yang di daratan atau keluarga akan mendapatkan sinyal darurat berupa SMS,” ujar Erlin.
Perangkat ini memanfaatkan jaringan seluler GSM yang didukung antena khusus untuk memperkuat penangkapan sinyal di tengah laut. Menurut Pastima Simanjuntak, alat ini telah sukses diujicobakan pada nelayan lokal dalam radius 30 kilometer dari darat. Selain SMS, keluarga di darat juga dapat memantau titik koordinat nelayan secara real-time melalui dashboard khusus. Jika kapal kehilangan sinyal seluler, sistem secara otomatis akan menampilkan rekam jejak koordinat terakhir kapal tersebut sebelum hilang kontak.
Selain bahaya di lautan, nelayan juga rentan terhadap cedera fisik akibat aktivitas menarik jaring ikan seberat 50 hingga 60 kilogram secara berulang di atas kapal kecil. Dari sisi teknik industri, Sri Zetli menggunakan metode REBA atau Rapid Entire Body Assessment untuk mengukur tingkat risiko pada postur kerja nelayan, khususnya pada leher, bahu, punggung, dan kaki.
“Hasil ukurnya sangat berat. Jika ini dilakukan terus-menerus dalam waktu lama, akan berpengaruh terhadap sistem musculoskeletal disorder atau memicu sindrom nyeri otot yang parah,” jelas Sri.
Guna menekan angka risiko cedera tersebut, para dosen memberikan edukasi postur tubuh yang benar kepada nelayan. Beberapa perubahan postur yang disosialisasikan meliputi menekuk lutut sebagai titik tumpu alih-alih membungkukkan tulang punggung saat mengangkat beban jaring, mengubah arah posisi kaki saat memindahkan beban dan menghindari kebiasaan memutar tulang punggung, serta menarik beban sedekat mungkin dengan tubuh agar tubuh lebih stabil dan terhindar dari cedera fatal.
Inovasi teknologi dan edukasi ergonomi ini telah diujicobakan di kawasan Tempang Cate, Pasir Panjang. Para dosen berharap solusi ini dapat terus dikembangkan secara bertahap untuk menjangkau lebih banyak kelompok nelayan di pesisir Batam. (Red)











Discussion about this post