Batam | beritabatam.co : Inovasi teknologi keselamatan nelayan berupa perangkat Internet of Things IoT yang dikembangkan tim dosen Universitas Putra Batam UPB mengungkap realita infrastruktur di lapangan. Penerapan alat penyelamat nyawa ini masih terhambat oleh minimnya jangkauan sinyal jaringan telekomunikasi di kawasan pesisir Batam.
Saat melakukan uji coba perangkat GPS Tracker dan Panic Button di perairan Tempang Cate dan Pasir Panjang, tim akademisi menemukan kelancaran operasional alat ini sangat bergantung pada ketersediaan sinyal seluler.
Dosen Sistem Informasi UPB Erlin Elisa, S.Kom.,M.Kom., memaparkan bahwa kelancaran jaringan seluler menjadi masalah krusial di kawasan tersebut. Pada pengujian pertama, alat yang dirakit menggunakan kartu provider IM3 gagal beroperasi maksimal karena tidak mendapatkan sinyal. Tim akhirnya harus mengganti SIM card menggunakan jaringan XL yang terbukti lebih stabil ditangkap oleh perangkat berantena tersebut di perairan Tempang Cate.
“Ternyata di sana itu tidak semua provider bisa ditangkap. Permasalahannya adalah ketika nelayan berada di laut, ketiadaan sinyal membuat alat mati,” ujar Erlin dalam dialog di RRI Batam, Rabu (09/09/26).
Untuk menyiasati area blank spot atau hilangnya sinyal di tengah laut, sistem informasi ini dirancang merekam jejak terakhir atau last record secara otomatis. Dosen Teknik Informatika UPB Pastima Simanjuntak, S.Kom.,M.Si., mengibaratkan sistem ini seperti pemantauan kontak pesawat terbang. Jika kapal nelayan tiba-tiba kehilangan sinyal seluler, dashboard pemantau di darat akan mengunci dan menyimpan titik koordinat terakhir sebelum perangkat hilang kontak.
Pengembangan alat keselamatan yang didanai Kemenristekdikti ini saat ini baru mencakup nelayan lokal dengan radius jangkauan 30 kilometer dari daratan. Ke depan, tim peneliti berharap mendapatkan dukungan dana lanjutan untuk menyempurnakan ketahanan alat terhadap air serta memperluas jangkauan uji coba pada kapal berkapasitas besar.
Temuan ketiadaan sinyal di pesisir ini menjadi catatan penting bagi pemerataan infrastruktur telekomunikasi di wilayah kepulauan. Tanpa jaringan yang memadai, alat keselamatan berbasis IoT akan sulit berfungsi optimal di tengah laut. (Red)











Discussion about this post