
Batam | beritabatam.co – Badan Pengusahaan BP Batam dan PT Air Batam Hilir ABH memastikan pekerjaan perbaikan dan relokasi jaringan pipa air minum berdiameter 800 milimeter di depan Kawasan Batamindo, Muka Kuning, telah rampung pada Sabtu [29/08/26]. Namun selesainya pekerjaan fisik di lapangan belum mengakhiri persoalan air bagi warga.
Hingga Minggu malam, proses pengaliran air masih dilakukan secara bertahap. Sementara itu keluhan dan protes dari masyarakat terdampak terus mengalir deras di kolom komentar media sosial resmi pengelola air.
Berdasarkan keterangan resmi ABH, normalisasi aliran dilakukan seiring penguatan struktur penyangga jaringan perpipaan atau thrust block. Tekanan air sengaja dinaikkan perlahan sebagai langkah kehati-hatian agar jaringan yang baru diperbaiki tidak kembali jebol.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano menjelaskan, saat ini pengoperasian IPA Duriangkang 3 dan 4 menghasilkan debit sekitar 600 liter per detik dengan tekanan 9 bar. Targetnya dinaikkan bertahap menuju kondisi normal 750 liter per detik dengan tekanan 12 bar.
“Setelah pekerjaan selesai, kita tidak bisa langsung menaikkan debit dan tekanan ke kondisi maksimal tanpa melihat respons jaringan,” jelas Denny.
Wilayah dengan posisi lebih dekat dan elevasi rendah dijanjikan menerima aliran lebih dulu, sementara area dengan elevasi tinggi di ujung pipa membutuhkan waktu lebih lama.
Penjelasan teknis itu tidak cukup menenangkan warga yang sudah berhari-hari kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Di kolom komentar Instagram ABH, ratusan warga meluapkan kekesalan karena air tak kunjung mengalir meski perbaikan diklaim telah selesai.
Sejumlah pelanggan mengaku keran sudah kering selama 5 hari dan terpaksa membeli air galon hanya untuk menyiram toilet. Mereka juga menuntut adanya kompensasi pada tagihan bulan depan. Keluhan lain muncul soal lambatnya distribusi bantuan mobil tangki air bersih ke daerah yang masih kering.
Kekecewaan itu bahkan berujung desakan evaluasi kinerja dan kontrak dengan ABH. Sejumlah akun menandai langsung Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra. Warga menyoroti rekam jejak pelayanan yang dinilai buruk, mulai dari air kuning, bercacing, mati mendadak, hingga tagihan yang melonjak tidak wajar.
Menanggapi krisis yang berlarut, Kepala BP Batam Amsakar Achmad menyampaikan permohonan maaf atas gangguan yang berlangsung jauh meleset dari perkiraan awal. Perbaikan yang dimulai sejak Rabu [26/08/26] sempat mengalami kebocoran susulan saat uji coba pada Jumat [28/08/26].
“Pekerjaan perbaikan pipa sudah kita tuntaskan. Sekarang yang menjadi perhatian adalah memastikan air kembali mengalir. Saya minta seluruh tim tidak berhenti pada selesainya pekerjaan fisik, tetapi memastikan pelayanan benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Amsakar.
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra juga mengingatkan tim teknis dan PT ABH bahwa krisis ini menyangkut hajat hidup orang banyak.
“Kami memahami bagaimana rasanya ketika air belum mengalir, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan. Karena itu, saya minta tim di lapangan bekerja sampai tuntas. Pastikan air benar-benar sampai kepada masyarakat yang masih terdampak,” ujarnya.
BP Batam memastikan akan terus mengawal proses ini dan memperbarui perkembangan di lapangan secara transparan hingga distribusi air di seluruh wilayah Batam kembali normal. (Ben)










Discussion about this post