
Batam | beritabatam.co – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan BBKK Batam terus memperketat pengawasan kesehatan di seluruh pintu masuk internasional, baik pelabuhan laut maupun bandara. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi masuknya potensi ancaman penyakit menular lintas negara di tengah tingginya arus mobilitas masyarakat.
Kepala BBKK Batam Ahmad Hidayat, SKM., M.Epid mengungkapkan, arus keluar-masuk pelaku perjalanan internasional di Batam saat ini rata-rata mencapai 8.000 hingga 12.000 orang per hari. Sebagai kota pelabuhan internasional yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, posisi Batam disebut sangat krusial dalam pencegahan penyakit antarnegara.
“Batam merupakan pelabuhan berkelas internasional dan kawasan perdagangan global. Potensi penyebaran penyakit cukup tinggi, baik yang dibawa oleh orang, alat angkut seperti kapal dan pesawat, barang bawaan, hingga faktor risiko lingkungan pelabuhan,” ujar Ahmad Hidayat saat menjadi narasumber dalam siaran langsung di RRI Batam, Selasa [01/09/26] pagi.
Ahmad memaparkan sejumlah penyakit menular yang saat ini masuk dalam radar kewaspadaan utama BBKK Batam. Selain penyakit lama seperti demam berdarah dan malaria, fokus pengawasan luar negeri tertuju pada ragam jenis influenza atau Influenza Like Illness ILI, Severe Acute Respiratory Infection SARI, Hantavirus, hingga virus Ebola.
Untuk mendeteksi penyakit saluran pernapasan secara cepat, BBKK Batam telah menyiagakan tes cepat menggunakan mesin Cepat Molekuler TCM di titik kedatangan utama seperti Pelabuhan Batam Centre dan bandara.
“Penumpang yang menunjukkan gejala demam atau flu langsung kami ambil sampel swab untuk dites cepat melalui TCM. Hasilnya kemudian kami kirimkan ke Laboratorium Kesehatan Masyarakat Labkesmas guna pemeriksaan mendalam hingga genome sequencing untuk mengetahui varian virusnya,” jelas Ahmad.
Sementara itu, bagi penumpang dengan riwayat perjalanan dari negara terjangkit wabah khusus seperti Ebola, penanganan dilakukan melalui prosedur khusus, termasuk rujukan langsung ke rumah sakit untuk tindakan isolasi lanjutan.
Tingginya karakter mobilitas harian pergi-pulang antara Batam, Singapura, dan Malaysia menuntut efisiensi pemeriksaan. Ahmad menegaskan pihaknya menerapkan prinsip maximum protection, minimum restriction yakni memberikan perlindungan kesehatan maksimal tanpa menimbulkan hambatan atau penundaan perjalanan bagi masyarakat.
Metode pengawasan dilakukan secara berlapis, mulai dari:
1. Penyaringan Digital: Pemantauan riwayat perjalanan dan kondisi kesehatan mandiri melalui aplikasi All Indonesia.
2. Pemeriksaan Fisik On-Site: Pemasangan thermal scanner di titik kedatangan imigrasi serta pengawasan visual oleh petugas.
3. Pemeriksaan Kapal: Pengecekan langsung ke atas kapal kargo maupun koordinasi intensif bersama kru kapal penumpang.
Mengingat adanya masa inkubasi penyakit di mana seseorang bisa tampak sehat saat melewati pintu masuk pelabuhan, BBKK Batam telah memperkuat jejaring surveilans bersama Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan rumah sakit se-Batam.
Ahmad mengimbau masyarakat untuk selalu menjaga imunitas sebelum bepergian, mengenakan masker di tempat kerumunan, serta jujur dalam memberikan riwayat perjalanan.
“Kejujuran pasien sangat penting. Jika beberapa hari setelah kembali dari luar negeri merasakan gejala demam atau sakit, segera periksa ke fasilitas kesehatan terdekat dan sampaikan kepada dokter riwayat perjalanan Anda. Dengan begitu, penanganan medis dapat diberikan secara cepat, tepat, dan tidak menular ke keluarga di rumah,” pungkasnya. (Red)










Discussion about this post