
Kepri | beritabatam.co – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau terus mematangkan persiapan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang. Proyek strategis yang menjadi simbol sejarah lahirnya Bahasa Indonesia tersebut ditargetkan memasuki tahap lelang pada Juli 2026.
Persiapan pembangunan dibahas dalam Rapat Persiapan Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional Pulau Penyengat yang dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau, Misni, di Gedung Daerah Tanjungpinang, Senin (29/6/2026).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Pertanahan (PUPP) Provinsi Kepri, Rodi Yantari, mengatakan hampir seluruh persyaratan administrasi yang menjadi dasar pelaksanaan lelang telah diselesaikan.
Menurutnya, sedikitnya 10 tahapan penting telah rampung. Di antaranya penyusunan Studi Kelayakan (Feasibility Study), Detail Engineering Design (DED), penandatanganan nota kesepakatan antara Gubernur Kepri dan DPRD Provinsi Kepri, hingga proses hibah lahan dari Pemerintah Kota Tanjungpinang kepada Pemerintah Provinsi Kepri.
Selain itu, pemerintah juga telah menyelesaikan perubahan regulasi zonasi kawasan cagar budaya melalui Keputusan Wali Kota Tanjungpinang Nomor 145 Tahun 2026, penyusunan Kajian Dampak Cagar Budaya (KDCB), rekomendasi pembangunan monumen di kawasan cagar budaya, Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), serta dokumen lingkungan.
Rodi menambahkan, hasil reviu Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dari BPKP Kepulauan Riau juga telah diterima. Dokumen tersebut menjadi salah satu syarat utama sebelum proses pelelangan dimulai.
Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional ini cukup kompleks karena berada di kawasan cagar budaya. Seluruh tahapan harus mengikuti ketentuan yang berlaku agar proses pembangunan berjalan sesuai aturan,” ujar Rodi.
Ia menyebut Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad memberikan perhatian khusus terhadap proyek tersebut. Bahkan, Ansar secara langsung berkoordinasi dengan BPKP Kepulauan Riau untuk mempercepat penyelesaian reviu HPS.
Dengan hampir seluruh persyaratan telah terpenuhi, Pemprov Kepri menargetkan proses lelang dimulai pada Juli 2026 dan selesai dalam waktu sekitar satu bulan.
Jika sesuai jadwal, groundbreaking pembangunan akan dilaksanakan pada awal Agustus 2026 dengan mengundang perwakilan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kebudayaan, dan Kementerian Pekerjaan Umum. Pada saat yang sama, pekerjaan konstruksi fisik juga akan dimulai.
Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional diproyeksikan berlangsung selama 17 bulan dan ditargetkan rampung serta diresmikan pada 2028, bertepatan dengan 100 tahun Sumpah Pemuda.
Untuk mendukung proyek tersebut, pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp30,8 miliar dalam APBD Tahun 2026 dan Rp70,2 miliar pada APBD Tahun 2027.
Kami berharap seluruh pihak dapat mempercepat penyelesaian persyaratan yang masih berproses sehingga pembangunan dapat dimulai sesuai jadwal,” kata Rodi.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kepri Misni menegaskan pembangunan Monumen Bahasa Nasional merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa besar Raja Ali Haji dalam perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi cikal bakal Bahasa Indonesia.
Menurut Misni, dunia internasional telah memberikan pengakuan terhadap Raja Ali Haji. Salah satunya melalui pembangunan patung Raja Ali Haji di Turkmenistan, yang menjadi simbol penghormatan terhadap tokoh sastra asal Pulau Penyengat tersebut.
Kalau dunia sudah memberikan penghormatan kepada Raja Ali Haji, maka sudah sewajarnya kita mewujudkan mimpi besar membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Bahasa Indonesia yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda 1928 berakar dari bahasa Melayu Pulau Penyengat yang dibakukan Raja Ali Haji melalui karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas, pada 1847.
Karena itu, menurut Misni, pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional bukan sekadar menghadirkan bangunan fisik, tetapi juga menjadi pengingat sejarah bagi generasi muda mengenai asal-usul bahasa pemersatu bangsa.
Monumen Bahasa Nasional ini adalah mimpi masyarakat Kepulauan Riau sekaligus hadiah bagi daerah. Dari pulau kecil bernama Penyengat lahir bahasa yang kini mempersatukan seluruh bangsa Indonesia dan dikenal hingga tingkat internasional,” tutupnya. (PRK)













Discussion about this post