
Batam | beritabatam.co – Jumat 13 Juni 2026 lalu, Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra berdiri di pinggir Terowongan Pelita. Senter di tangannya menyorot gorong-gorong yang menganga tanpa penutup besi.
“Bukan pertama kali,” ujarnya ke kamera. “Besok kami rapatkan satgas.” ucapnya singkat singkat.
Kalimat itu membuka sepekan yang membuat Batam tersentak. Istilah “rayap besi” yang disematkan warga untuk pencuri infrastruktur mendadak viral. Bukan karena baru, tapi karena aksinya makin berani dan sasarannya makin vital. Tulangan jalan, tutup manhole, sampai hydrant air bersih yang baru seminggu dipasang ikut raib.
Modusnya seragam dan terjadi dini hari. Minggu malam 15 Juni di Pasir Putih, dua pria berseragam biru dongker membuka hydrant baru dekat Ocarina. Warga mengira mereka petugas SPAM.
Hydrant dibuka, air bersih ribuan liter muncrat ke jalan. Rekaman dari Alfamart seberang membuktikan seragam bisa dipalsu, tapi kerugian tak bisa dibohongi. Hydrant itu bagian jaringan baru untuk mengurai krisis air di Batam Center.
Selasa pagi 17 Juni giliran Muka Kuning. Video warga memperlihatkan pelebaran jalan depan Kampung Aceh gelap gulita. Di tengah proyek, seorang pria jongkok mencongkel besi bekisting. Tak ada pagar. Tak ada satpam.
Siangnya, data kepolisian dirilis, sepekan terakhir terjadi lebih dari 10 kasus. 18 orang ditangkap, empat di antaranya penadah. Peringatan waspada rayap besi berkeliatan pun beredar luas.
Mereka beraksi pukul 21.00 sampai 03.00. Pakai kostum proyek atau PDAM. Incarannya besi 12-16 mm, tutup drainase, dan kuningan hydrant. Harga di penadah Rp8 ribu sampai Rp12 ribu per kilo. Sekali angkut bisa 50 kg. Semalam satu komplotan bisa panen jutaan rupiah.
Pemerintah langsung merespons. Senin 16 Juni di lobi Polresta Barelang, Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyampaikan data Polresta. 70 persen pelaku curanmor dan pencurian besi bukan ber-KTP Batam.
Solusi yang ia tawarkan memicu perdebatan, setiap pendatang yang urus domisili wajib lampirkan SKCK.
Sehari kemudian, Li Claudia umumkan pembentukan Satgas Patroli Rayap Besi lewat video. Satgas gabungan Pemko, BP Batam, Satpol PP, dan Polresta mulai bergerak.
“RT/RW saya minta aktifkan ronda. Lihat yang mencurigakan, lapor 110,” tegasnya.
Di kolom komentar, warga terbelah. Ada yang dukung wacana SKCK dan menulis “usir aja perusak”. Tapi banyak juga yang balik bertanya: “Proyek miliaran kok nggak dipagar? Penadah besarnya kapan ditangkap?”
Ada tiga hal yang bertemu Juni 2026. Pertama, Batam sedang ngebut membangun. Pelebaran Muka Kuning-Batuaji, SPAM baru, dan perluasan FTZ ke 22 pulau membuat banyak material besi ditinggal terbuka semalaman.
Kedua, harga besi bekas naik sejak Mei karena galangan kapal butuh bahan baku murah. Ketiga, krisis air bikin hydrant kuningan jadi rebutan.
Ironisnya, 12 Juni lalu Bengkong masih banjir selut. Seminggu kemudian air bersih justru dibuang maling.
Kerugiannya bukan hanya besi. Proyek Muka Kuning molor karena material hilang tiap malam. Anggaran membengkak. Truk berisiko jatuh ke lubang gorong-gorong tanpa tutup.
Yang lebih mahal adalah kepercayaan warga. Warga Pasir Putih kini curiga setiap kali lihat petugas air.
“Jangan-jangan yang kemarin itu beneran pegawai,” tulis komentar di video hydrant.
Pertanyaan besar belum dijawab Satgas. 18 tersangka yang ditangkap kebanyakan kelas pemulung. Padahal untuk kirim besi ton-ton ke luar Batam butuh gudang, truk, dan kapal. Siapa penadah kelas kakapnya?
Satgas mulai patroli malam ini. Wacana SKCK masih digodok. Warga kini menunggu dua hal: nama PT penadah diumumkan Polresta, dan CCTV tenaga surya dipasang di 100 titik rawan seperti dijanjikan BP Batam tahun lalu.
Kalau dua itu tidak kejadian, “rayap besi” bukan hanya menggerogoti proyek. Dia juga menggerogoti rasa aman warga Batam.. (Ben)














Discussion about this post