
Batam | beritabatam.co – Dari jendela rumah warga Batam, gedung-gedung Singapura terlihat jelas. Hanya butuh 30 menit menyeberang laut untuk sampai ke negara tetangga. Kedekatan inilah yang menjadi berkah sekaligus ujian terbesar bagi wawasan kebangsaan.
Di tengah dinamika itu, Ketua Umum Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS), Akhmad Rosano, angkat bicara. Baginya, tantangan nasionalisme di perbatasan hari ini bukan soal bendera, melainkan soal kalkulasi sehari-hari yang dihadapi warga.
Masyarakat setiap hari membandingkan. Jalan di sana lebih mulus, rumah sakit di sana lebih cepat, pelayanan di sana lebih rapi. Perbandingan itu wajar, dan menurut Akhmad, tidak bisa dihakimi sebagai pengkhianatan.
“Berobat atau berbelanja ke Singapura atau Malaysia itu soal pilihan rasionalitas pelayanan, bukan soal tidak cinta Indonesia,” ujarnya.
Justru, kata dia, kedekatan itu harus diubah menjadi cambuk harga diri. Dalam falsafah Bugis-Makassar, ada nilai yang disebut Siri’. Rasa malu, harga diri untuk harus bisa lebih baik.
“Negara kita lebih besar, sumber daya kita jauh lebih kaya. Kalau mereka bisa, kita harus bisa lebih baik dari mereka. Itu siri’ kita sebagai bangsa,” tegasnya.
Namun siri’ itu, lanjut Akhmad Rosano, perlu disambut dengan kehadiran negara yang adil. Ia menilai, selama ini Kepulauan Riau terlalu sering diposisikan hanya sebagai penjaga gerbang dan penyumbang devisa, sementara pembangunan pelayanan dasar masih tertinggal.
Ia pun menitipkan pesan terbuka yang cukup menohok untuk pemerintah pusat.
“Bapak Presiden Prabowo Subianto yang saya hormati, perbatasan di Kepri ini bukan sekadar garis batas militer di peta. Ini adalah wajah ekonomi dan martabat bangsa. Tolong bangunlah Batam dengan hati dan dengan keadilan,” kata Akhmad.
“Jangan jadikan kami sekadar halaman belakang yang hanya diingat saat ada konflik kedaulatan. Jadikanlah kami beranda depan yang megah dan sejahtera. Itu yang kami tunggu.”
Sebagai pemimpin paguyuban besar di kota yang sangat heterogen, Rosano paham betul merawat kerukunan jauh lebih sulit daripada membangun gedung. PKSS, di bawah kepemimpinannya, memegang dua prinsip: Siri’ na Pacce, menjaga harga diri dan solidaritas, dan pepatah Melayu, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.
Prinsip itu yang membuat pihaknya tegas menolak segala bentuk ego kedaerahan dan paham radikal.
Termasuk ketika menyikapi wacana pelibatan RT/RW untuk mengurus pajak kendaraan bermotor yang belakangan ramai di Batam.
“Itu wacana yang kurang tepat,” ujarnya lugas. “RT dan RW itu pamong kerukunan, tugasnya merawat gotong royong, menjaga warga kalau ada yang sakit, ada yang meninggal. Kalau mereka dibebani tugas sebagai penagih pajak, hubungan emosional yang sudah baik itu akan rusak. Kepercayaan warga bisa pecah.”
Menurutnya, urusan pajak biarlah dikelola oleh instansi berwenang dengan sistem digital yang transparan, bukan dengan membebani struktur sosial paling bawah.
Meski demikian, ia tetap mengajak warga untuk tidak apatis. Kekecewaan pada oknum tidak boleh menjadi alasan untuk membakar rumahnya sendiri.
“Negara itu seperti rumah kita. Kalau atapnya bocor, yang kita perbaiki atapnya, bukan rumahnya kita bakar,” ucapnya menganalogikan pentingnya tetap taat pajak dan taat hukum.
Di akhir perbincangan, Rosano menatap jauh soal generasi muda. Ia tahu, banyak anak muda Batam yang silau melihat hijaunya rumput di seberang laut.
Untuk mereka, ia menitipkan pesan yang emosional.
“Anak-anakku, rumput tetangga memang terlihat lebih hijau hari ini, karena mereka lebih dulu menyiramnya dengan sistem yang rapi. Tapi ingatlah, tanah pertiwi kita jauh lebih luas dan jauh lebih subur.”
“Tugas kalian bukan menyeberang untuk tinggal di halaman tetangga. Tugas kalian adalah belajar, membawa air dan pupuk ilmu pengetahuan itu, untuk menyuburkan kembali Merah Putih di tanah kita sendiri.”
“Bangkitlah, dan buatlah Indonesia bangga karena memiliki kalian.” (Red)













Discussion about this post