
Batam | beritabatam.co – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Perkumpulan Kekerabatan Sulawesi Selatan (PKSS) bekerja sama dengan RRI Batam menggelar Dialog Wawasan Kebangsaan bertajuk ‘Perkuat Wawasan Kebangsaan dalam Menjaga Karakter Anak Bangsa’, Kamis (13/08/26) di Politeknik Negeri Batam.
Dialog di Batam ini merupakan rangkaian ketiga setelah sebelumnya sukses digelar di Konsulat Jenderal RI di Johor Bahru, Malaysia dan di Tanjungpinang, Kepulauan Riau.
Ketua Umum DPP PKSS, Akhmad Rosano, dalam pidato pembukaannya menyoroti kondisi moral dan etika generasi muda yang dinilainya mulai mengkhawatirkan. Ia merindukan era di mana pendidikan karakter seperti Pendidikan Moral Pancasila (PMP), Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), serta Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) ditanamkan kuat di sekolah.
“Di depan ini Bapak Ibu semua adalah orang-orang lama yang mengerti PMP, ngerti PSPB, dan ngerti P4. Saya khawatir dan sangat bimbang, generasi saat ini sudah amburadul. Mental mereka kurang menghargai orang-orang bersejarah di negeri ini. Etika dan adab sudah hampir punah,” tegas Akhmad Rosano di hadapan peserta dialog wawasan kebangsaan.
Rosano menyatakan hasil dialog wawasan kebangsaan ini akan didorong langsung kepada Presiden Republik Indonesia. Ia berharap pemerintah pusat mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali mata pelajaran PMP, PSPB, serta implementasi P4 di tingkat sekolah dasar.
Menurutnya, visi Indonesia Emas 2045 tidak cukup hanya dibangun dengan kemajuan teknologi dan ekonomi, tetapi harus diimbangi dengan kemajuan moral, etika, persatuan, dan rasa cinta tanah air.
“Pertanyaannya adalah, Indonesia seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi penerus? Kita tentu menginginkan Indonesia yang maju, kuat, berdaulat, dan sejahtera, tetapi sekaligus tetap memiliki karakter dan jati diri sebagai anak bangsa yang berpegang pada empat pilar: Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika,” paparnya.
Ia juga menekankan posisi strategis Batam sebagai daerah perbatasan dan pintu gerbang Indonesia yang sangat majemuk dengan berbagai suku, agama, dan budaya, sehingga membutuhkan pemahaman wawasan kebangsaan yang ekstra kuat.
“Perbedaan tersebut bukanlah kelemahan. Perbedaan adalah kekuatan kita apabila kita mampu merawat persatuan. Inilah makna sejati dari Bhinneka Tunggal Ika di tengah 1.300 suku dan 733 bahasa daerah yang kita miliki,” tambahnya.
Acara yang dipandu host Amira Arif ini berlangsung meriah dan dihadiri perwakilan Wakil Gubernur Kepri, perwakilan Wali Kota Batam, jajaran Forkopimda, serta ketua-ketua paguyuban se-Nusantara dari Sabang sampai Merauke.
Dialog menghadirkan sejumlah narasumber tokoh dan akademisi Kepri, di antaranya Prof. Dr. HM. Soerya Respationo, S.H., M.H., M.M., Mantan Kapolda Kepri Irjen Pol (Purn) Drs. Yan Fitri Halimansyah, S.H., M.H., Direktur Politeknik Negeri Batam Ir. Bambang Hendrawan, S.T., M.Si., CPMP, CISCP, perwakilan Ketua LAM Kota Batam, serta Sekretaris Jenderal DPP PKSS H. Masrur Amin, S.H., M.H.
Rangkaian acara juga diwarnai penandatanganan komitmen kesetiaan pada nilai-nilai kebangsaan, sesi tanya jawab interaktif, hingga penampilan budaya. (Red)














Discussion about this post