
Batam | beritabatam.co – Tumpukan sampah di Kota Batam belum menemukan solusi tuntas. Volume sampah harian kini melonjak tajam, ditambah minimnya armada pengangkutan dan beban TPA Telaga Punggur yang sudah kelebihan kapasitas.
Hal itu disampaikan Tain Komari, Ketua Kelompok Diskusi Anti 86 yang akrab disapa Cak Tain, saat menjadi narasumber dialog Batam Pagi Ini di RRI Batam, Rabu [27/8/2026].
Berdasarkan data semester I 2026, volume sampah di Batam naik 35 persen. Dari sebelumnya rata-rata 700 ton per hari, kini mencapai 950 ton per hari.
“Sampah ini boleh dibilang masalah klasik, tapi ini PR yang paling mendasar dan terpenting bagi kehidupan warga Batam. Masalahnya sekarang harus diselesaikan tuntas dari hulu ke hilir. Tidak bisa hulunya saja, tapi hilirnya tidak selesai,” ujar Cak Tain.
Cak Tain menyoroti minimnya armada Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam sebagai akar masalah terhambatnya pengangkutan dari permukiman. Ironisnya, puluhan unit truk justru terbengkalai.
Ia mencatat sekitar 25 unit terparkir di kantor DLH, 30 unit di TPA Telaga Punggur, dan belasan lainnya di bengkel. Total diperkirakan 70 hingga 75 unit dalam kondisi rusak.
“Ini persoalan dasar kalau armada untuk pengangkutan tidak memadai. Jangan sampai TPS dibuat di permukiman, tapi ujung-ujungnya sampah tidak terangkut,” tegasnya.
Dampaknya langsung dirasakan warga. Idealnya pengangkutan dilakukan dua hari sekali. Namun di lapangan, frekuensinya molor hingga seminggu sekali, bahkan ada yang dua minggu sekali. Banyak warga akhirnya membuang sampah sembarangan karena tidak tahan bau dan lalat.
Cak Tain juga menyinggung soal retribusi sampah. Dengan ratusan ribu rumah tangga dan kawasan niaga yang membayar rutin setiap bulan, potensi pendapatan daerah dinilai besar.
“Retribusi ini pelayanannya harus diberikan dulu baru dipungut. Masyarakat bayar retribusi tiap bulan, tapi sampahnya jarang diangkut. Potensi pendapatan ini kan riil, kalau dikalkulasikan bisa untuk membuat formulasi anggaran pengadaan armada yang ideal. Sayangnya, kalau bicara anggaran ini selalu susah untuk terbuka,” kritiknya.
Jika Pemko Batam kewalahan, ia menyarankan opsi pengelolaan sampah diswastanisasi seperti periode 2008-2009.
Untuk solusi jangka pendek, Cak Tain mendorong optimalisasi dana CSR perusahaan di Batam. Dana itu bisa digunakan untuk menggaji petugas gerobak yang mengangkut sampah dari rumah ke TPS.
“Ini namanya peduli lingkungan. Sementara di hilir atau di TPA Telaga Punggur, pemerintah harus segera mencari teknologi pemusnahan sampah yang canggih, bukan lagi sekadar metode landfill yang dilarang dibakar karena menghasilkan gas metan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, DLH Kota Batam belum memberikan tanggapan resmi terkait kondisi armada dan rencana penambahan truk pengangkut baru. (Red)
![Ketua Kelompok Diskusi Anti 86 yang akrab disapa Cak Tain, saat menjadi narasumber dialog _Batam Pagi Ini_ di RRI Batam, Rabu [27/8/2026].
Foto: Istimewa/AI](https://beritabatam.co/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-11.02.18.jpeg)








![Ketua Kelompok Diskusi Anti 86 yang akrab disapa Cak Tain, saat menjadi narasumber dialog _Batam Pagi Ini_ di RRI Batam, Rabu [27/8/2026].
Foto: Istimewa/AI](https://beritabatam.co/wp-content/uploads/2026/08/WhatsApp-Image-2026-08-26-at-11.02.18-120x86.jpeg)




Discussion about this post