Jakarta | beritabatam.co – Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, mengatakan perhatian terhadap kesehatan mental pria perlu menjadi fokus karena angka bunuh diri di kalangan laki-laki masih relatif tinggi.
Berdasarkan data Kepolisian RI tahun 2023 dan 2024, sebanyak 77 persen kasus bunuh diri di Indonesia dilakukan oleh laki-laki, dengan mayoritas terjadi pada kelompok usia di atas 40 tahun.
“Perhatian khusus pada pria bukan tanpa alasan. Banyak pria menghadapi tekanan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, dan tuntutan sosial yang membuat mereka menanggung kecemasan, stres, maupun depresi tanpa berbagi kepada orang lain. Kondisi ini dapat berkembang menjadi krisis yang mengancam nyawa,” kata Imran, Senin, (09/06/26), sebagaimana dimuat laman kabarin.com.
Menurutnya, Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Pria yang diperingati setiap Juni menjadi momentum penting untuk meningkatkan perhatian terhadap isu tersebut. Peringatan pada bulan Juni juga bertepatan dengan berbagai kampanye kesehatan pria di tingkat internasional, termasuk International Men’s Health Week dan Hari Ayah.
Kemenkes menilai salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kesehatan mental pria adalah stigma sosial yang masih kuat. Norma maskulinitas yang menekankan ketangguhan dan kemandirian sering kali membuat pria menunda atau bahkan menghindari konsultasi kesehatan mental.
Selain itu, gejala gangguan mental pada pria kerap muncul dalam bentuk yang tidak umum, seperti mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga peningkatan konsumsi alkohol. Kondisi tersebut sering kali tidak disadari oleh keluarga maupun tenaga kesehatan.
“Tujuan utama kampanye ini adalah mengurangi stigma, mendorong deteksi dini, memperluas akses layanan seperti telekonsultasi dan hotline, serta memperkuat upaya pencegahan bunuh diri yang lebih sensitif terhadap perbedaan gender,” ujarnya.
Kemenkes juga mengajak masyarakat untuk mengubah pandangan bahwa mencari bantuan kesehatan mental merupakan tanda kelemahan. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bentuk keberanian untuk menjaga diri sendiri dan orang-orang terdekat.
Dalam upaya meningkatkan layanan, Kemenkes mendorong pelatihan bagi tenaga kesehatan primer agar lebih mampu mengenali tanda-tanda gangguan mental pada pria. Selain itu, program skrining kesehatan mental di lingkungan kerja dan dukungan antar rekan kerja juga dinilai efektif untuk mendorong pria lebih terbuka mencari bantuan.
Imran menambahkan, keluarga dan sahabat memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental seseorang. Mendengarkan tanpa menghakimi dan memberikan ruang untuk bercerita dapat menjadi langkah sederhana yang berdampak besar.
Di sisi lain, komunitas dan organisasi masyarakat didorong memanfaatkan Bulan Kesadaran Kesehatan Mental Pria dengan menggelar edukasi, skrining kesehatan mental, maupun penyebaran informasi layanan bantuan yang tersedia.
Meski demikian, Kemenkes mengakui masih terdapat tantangan berupa stigma sosial dan keterbatasan akses layanan di sejumlah daerah. Karena itu, pemerintah terus mendorong pengembangan layanan telekonsultasi, peningkatan keterjangkauan layanan kesehatan mental, serta program pencegahan bunuh diri berbasis bukti yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Kemenkes menegaskan bahwa upaya menjaga kesehatan mental pria membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari layanan kesehatan, pendidikan, dunia kerja, hingga komunitas, agar dampaknya dapat dirasakan secara luas dan berkelanjutan. (Kab)













Discussion about this post