
Jakarta | beritabatam.co : Babak demi babak kasus hukum yang menjerat mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah kian menyita perhatian publik. Setelah penggeledahan oleh Kortastipidkor Polri yang berujung penetapan tersangka oleh Polda Kepri, status Febrie sempat berubah menjadi saksi, hingga akhirnya kembali ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejaksaan Agung.
Di tengah pusaran kasus yang penuh tanda tanya itu, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea resmi tampil di garis depan sebagai kuasa hukum sang mantan Jampidsus. Langkah ini sontak memicu pertanyaan besar: mengapa pengacara dengan tarif fantastis itu mau pasang badan?
“Bagi saya ini panggilan nurani, sama seperti 90 persen kasus viral pelanggaran HAM yang saya tangani gratis dan semuanya sukses,” ujar Hotman dalam pernyataannya, (18/07/26).
Ada dua alasan fundamental yang disebut menjadi alasannya membela Febrie.
Pertama, soal marwah Presiden Prabowo. Hotman yang mengaku telah 25 tahun menjadi pengacara pribadi Prabowo Subianto, merasa miris melihat penegak hukum yang dulu dibanggakan Presiden justru dikriminalisasi secara tiba-tiba tanpa sepengetahuan Kepala Negara. Menurutnya, hal ini merendahkan marwah Presiden.
Kedua, soal rekam jejak prestasi yang belum pernah ada. Hotman membongkar capaian fantastis Febrie selama menjabat Jampidsus. Di bawah komandonya, Kejaksaan diklaim berhasil meraup Rp 430 triliun uang tunai yang langsung masuk ke kas negara hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Rinciannya, dana tersebut berasal dari Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) sebesar Rp 300 triliun dan pengembalian kerugian negara sebesar Rp 130 triliun. Sebuah angka yang menurut Hotman belum pernah ada tandingannya dalam sejarah kejaksaan di Indonesia.
Menurut Hotman, mantan Jampidsus telah mengusik zona nyaman para oligarki. Keberaniannya mengusut mega skandal transfer pricing yang diduga merugikan negara ribuan triliun, hingga menyentuh kasus-kasus kelas kakap seperti Petral, tokoh ‘R’ di Malaysia, dan kasus MBG, diduga membuat para elite besar terganggu kepentingannya.
“Dia terlalu berani menyentuh oligarki penguasa. Ini balas dendam,” tegas Hotman. (Ben)













Discussion about this post