
Batam | beritabatam.co : Senin, 04 Mei 2026. Di depan Kantor Pemko Batam, spanduk putih dibentangkan. Tinta hitamnya tegas: “Stop Bungkam Jurnalis!!” Puluhan jurnalis dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam dan organisasi pers lain berdiri berjejer. Tidak ada teriakan marah. Yang ada hanya suara bulat, kebebasan pers harus dijaga.
Aksi damai ini jadi penanda. Tongkat estafet perjuangan kebebasan pers resmi berpindah. Wajah-wajah baru kini di garda depan. Mereka yang dulu menonton dari belakang layar, hari ini memegang megafon sendiri.
“Regenerasi itu penting. Biar suara kebebasan pers tidak putus di satu generasi saja,” tulis seorang jurnalis senior yang belasan kali turun aksi serupa.
Hari itu ia memilih tidak ikut. Bukan karena diam. Tapi karena percaya, saatnya generasi baru yang bicara.
“Stop Bungkam Jurnalis” bukan sekadar kata. Itu alarm. Pengingat bahwa kerja jurnalistik masih dibayangi intimidasi, kriminalisasi, dan sensor yang senyap.
Di Batam, para jurnalis tidak sedang melawan pemerintah. Mereka sedang mengingatkan, tanpa pers bebas, demokrasi lumpuh. Tanpa jurnalis merdeka, publik kehilangan hak untuk tahu.
Aksi berjalan tertib. Aparat berjaga. Warga merekam. Beberapa mengangguk paham.
Pesan yang dibawa pulang hanya satu, jurnalis tidak boleh dibungkam. Sebab ketika jurnalis dibungkam, yang mati bukan cuma profesi. Yang ikut terkubur adalah kebenaran.
“Hari-hari esok milik kita. Terciptanya masyarakat sejahtera. Terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa Orba,” begitu refleksi yang ditulis salah satu peserta.
Estafet sudah berjalan. Obor sudah menyala. Tugas kita, menjaganya tetap hidup. (***)













Discussion about this post