Jakarta | beritabatam.co – Pengamat politik Rocky Gerung memberikan peringatan keras terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang RUU Perampasan Aset yang tengah didesak publik untuk segera disahkan. Ia menyoroti adanya perbedaan niat mensrea yang mencolok antara gerakan rakyat dengan para elit politik di Senayan.
“Mensrea rakyat adalah keadilan sosial, sedangkan mensrea DPR seringkali hanya untuk pamer momentum,” tegas Rocky dalam sebuah forum diskusi publik baru-baru ini.
Pernyataan itu merespons gelombang demonstrasi dari berbagai aliansi masyarakat, termasuk massa dari Pati, Jawa Tengah, yang menuntut RUU Perampasan Aset segera disahkan dan hukuman mati bagi koruptor diterapkan.
Rocky secara khusus menyoroti tenggat waktu pengesahan RUU Perampasan Aset yang dijanjikan DPR pada 15 Desember mendatang. Ia mendesak publik membangun ‘peradaban argumentasi'” dan mengawal proses ini secara rasional.
Ia memperingatkan skenario terburuk jika pada tenggat waktu tersebut DPR tiba-tiba menunda atau membatalkan pengesahan dengan dalih dinamika politik.
“Jika mereka mundur, maka agenda pemberantasan korupsi bisa gagal total,” pungkasnya.
Meski mengapresiasi kemarahan publik terhadap lambannya penanganan korupsi, Rocky menegaskan akal sehat harus tetap memegang kendali. Ia khawatir kemarahan rakyat yang tidak terarah justru akan dibajak pihak tertentu untuk mengambil alih atau memperpanjang kekuasaan secara otoriter.
Dalam iklim politik saat ini, Rocky menilai masyarakat harus lebih kritis membaca situasi. Menurutnya, mencurigai adanya konsesi-konsesi politik di belakang layar jauh lebih menyelamatkan pergerakan daripada sekadar bersikap jujur namun naif.
“Kecurigaan lebih penting daripada kejujuran hari ini. Kejujuran yang naif hanya akan membuat kita jadi aktivis palsu,” tukasnya.
Ia juga mengingatkan rekam jejak bahwa undang-undang seringkali dibuat dengan maksud etis, namun pada akhirnya rentan diselewengkan secara politis.
Menutup pandangannya, Rocky berpesan kepada seluruh elemen masyarakat yang mengawal RUU ini. Di tengah kesulitan ekonomi dan maraknya ‘kegenitan politik’, ia menyebut ini adalah momentum paling tepat bagi rakyat untuk kembali menuntun arah bangsa dengan akal sehat dan pengawalan yang ketat. (Ben)











Discussion about this post