
Batam | beritabatam.co – Masuknya investasi raksasa di sektor Data Center (pusat data) dan Artificial Intelligence (AI) ke Kota Batam memunculkan polemik baru. Di balik nilai investasi yang fantastis, proyek ini dinilai membawa ancaman serius terhadap ketersediaan layanan dasar masyarakat, yakni listrik dan air bersih.
Pengamat Kebijakan Publik, Tain Komari atau yang akrab disapa Cak Tain, secara terang-terangan mempertanyakan arah dan manfaat investasi tersebut bagi masyarakat Batam. Hal ini ia sampaikan dalam wawancara langsung di RRI, Kamis (15/10/26) pagi.
Cak Tain menyoroti bahwa industri pusat data sangat rakus terhadap konsumsi energi. Ia mencontohkan, proyek Data Center seperti NVIDIA dikabarkan membutuhkan daya listrik hingga 360 Megawatt. Angka ini setara dengan kebutuhan listrik untuk puluhan ribu warga.
“Pertanyaan besarnya, investasi data center ini untuk siapa? Di Johor (Malaysia) dan Singapura, investasi semacam ini sudah ditolak karena persoalan mendasar krisis air dan listrik. Tapi di Batam, tiba-tiba di iya kan. Padahal, kemampuan melayani kebutuhan dasar warga saat ini saja masih ngos-ngosan,” ujar Cak Tain.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Cak Tain menyinggung insiden blackout (mati listrik total) yang baru saja melanda Batam selama belasan jam secara sporadis di berbagai wilayah seperti KDA, Cendana, Frensiana, hingga Bintan.
Menurutnya, jika untuk kebutuhan masyarakat saja listrik sering bermasalah, bagaimana pemerintah akan menjamin suplai untuk data center yang harus menyala 24 jam tanpa henti.
Selain listrik, konsumsi air untuk pendingin mesin data center juga menjadi sorotan tajam. Cak Tain mengkritik klaim Kepala BP Batam yang sebelumnya menyatakan bahwa data center akan menggunakan air laut yang disuling melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) secara mandiri.
Berdasarkan penelusurannya di lapangan, Cak Tain justru menemukan fakta yang berbeda. Tidak ada tanda-tanda pembangunan fasilitas SWRO maupun instalasi pipa laut skala besar.
“Kita malah menemukan ada pembangunan WTP (Water Treatment Plant) baru di Dam Duriangkang yang indikasinya mengarah ke Data Center di Nongsa Digital Park. Padahal air dam itu adalah sumber utama masyarakat Batam. Jangan sampai ada informasi yang dimanipulasi. Kebutuhan air data center itu wajib dan continue, dampaknya debit air untuk warga pasti akan tersedot,” tegasnya.
Di sisi ekonomi, investasi data center yang mencapai puluhan triliun rupiah dinilai tidak membawa multiplier effect (efek ganda) bagi masyarakat Batam. Cak Tain membandingkan investasi ini dengan industri manufaktur atau pabrikasi yang bersifat padat karya.
“NVIDIA misalnya, investasinya disebut mencapai 45 triliun rupiah, tapi tenaga kerja yang direkrut kabarnya hanya sekitar 200 hingga 300 orang. Bandingkan dengan investasi mobil listrik BYD di Subang yang investasinya 11 triliun tapi menyerap hingga 20.000 pekerja. Batam saat ini penganggurannya tinggi, galangan kapal mati suri. Harusnya yang ditarik adalah investasi padat karya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pemerintah agar tidak menjadikan masyarakat Batam sebagai korban dari ambisi mengejar investasi teknologi tinggi. Tren global menunjukkan negara maju mulai membatasi data center karena menghabiskan sumber daya alam lokal.
“Kita tidak menolak teknologi AI atau Data Center. Tapi pertanyaannya, kenapa harus di Batam yang air bersihnya saja masih krisis? Jangan sampai investasi triliunan masuk, tapi multiplier effect yang dirasakan warga justru negatif: air makin sering mati, listrik makin sering blackout,” pungkas Cak Tain. (Ben)











Discussion about this post