Nasional l beritabatam.co : Dolar Singapura resmi menembus level psikologis Rp14.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah. Data pasar Jumat 29 Mei 2026 mencatat 1 SGD dihargai Rp14.013,58 pada pukul 07.11 UTC menurut Morningstar. Agregator kurs mencatat penutupan di Rp14.000 pada 28 Mei pukul 23.00 UTC. Puncak intraday sebelumnya terjadi pada 27 Mei di Rp14.006 per SGD, yang merupakan level tertinggi SGD/IDR dalam setahun terakhir dan rekor tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Penguatan SGD terjadi di tengah tekanan luas terhadap rupiah, tidak hanya terhadap dolar Amerika Serikat. Bank Indonesia mencatat rupiah pada 19 Mei 2026 berada di Rp17.700 per USD, melemah 2,20 persen dibandingkan akhir April. BI menyebut pelemahan dipicu tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah yang mendorong pelarian modal dari pasar negara berkembang.
Analis senior mata uang MUFG Bank Michael Wan menilai pelemahan terutama menghantam negara pengimpor minyak. “Pelemahan ini terutama terjadi pada negara pengimpor minyak seperti rupee India dan peso Filipina, yang kini menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga minyak dan meningkatnya imbal hasil obligasi AS,” ujarnya. Ia menambahkan rupiah termasuk mata uang yang sensitif terhadap kenaikan yield AS.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi sebelumnya sudah memperingatkan eskalasi. Pada 17 Mei ia menyebut rupiah bisa berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp17.850. Dalam pernyataan sebelumnya ia memperkirakan dalam perdagangan Mei 2026 kemungkinan besar Rp18.000 akan tembus.
Bank Indonesia bergerak lebih agresif sejak pertengahan Mei. Dalam Rapat Dewan Gubernur 19–20 Mei 2026, BI menaikkan BI-Rate 50 basis poin menjadi 5,25 persen, Deposit Facility menjadi 4,25 persen, dan Lending Facility menjadi 6,00 persen. Kenaikan disebut sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
Langkah operasional BI meliputi peningkatan intensitas intervensi valuta asing melalui transaksi non-deliverable forward di pasar luar negeri serta transaksi spot dan domestic non-deliverable forward di pasar domestik. BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik aliran portofolio asing dan menyesuaikan ambang batas transaksi valas tanpa underlying mulai Juni 2026.
Konteks global memperberat tekanan. Yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 4,66 persen dan tenor 2 tahun ke 4,11 persen pada 19 Mei, level tertinggi dalam setahun. Kenaikan didorong defisit fiskal AS dan ekspektasi The Fed menahan suku bunga tinggi hingga akhir 2026.
BI tetap optimistis. Dalam rilis yang sama, bank sentral menyatakan meyakini nilai tukar rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.
Namun tembusnya SGD ke Rp14.000 menjadi sinyal nyata bagi pelaku usaha dan masyarakat. Biaya impor dari Singapura, cicilan utang berdenominasi asing, hingga ongkos perjalanan ke luar negeri akan terasa lebih mahal dalam waktu dekat, setidaknya sampai intervensi dan kenaikan suku bunga mulai meredam gejolak global. (Ben)














Discussion about this post