
Jakarta | beritabatam.co : Masalah ketersediaan air bersih di Batam diprediksi akan menemui titik krusial pada tahun 2028. Hal ini terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat RDP Komisi VI DPR RI bersama jajaran pimpinan BP Batam, Kamis 17/09/26.
Menanggapi keprihatinan berbagai pihak, termasuk keluhan warga di 18 area di Batam yang mengalami aliran air tersendat, Kepala BP Batam Amsakar Achmad membeberkan serangkaian langkah penanganan.
Amsakar menegaskan komitmen pihaknya untuk segera menangani stress area tersebut, di mana enam kawasan ditargetkan akan teratasi pada Oktober 2026.
Di beberapa titik, pasokan air yang sebelumnya tak menentu dijanjikan akan meningkat menjadi 12 hingga 18 jam, dan secara bertahap menuju layanan penuh 24 jam.
Ia juga memastikan armada tangki air dikerahkan untuk daerah yang paling parah terdampak, seperti Sei Pelunggut, sembari proses perbaikan jaringan pipa tua berlangsung.
“Kami telah memetakan masalahnya, salah satunya adalah usia infrastruktur pipa yang sudah sangat tua, ada yang 30 sampai 50 tahun. Perbaikan dan peremajaan ini akan terus kami lakukan bertahap,” tegas Amsakar.
Namun permasalahan tidak berhenti di situ. Direktur Perencanaan Infrastruktur BP Batam Fesly Abadi Paranoan yang membacakan Peta Jalan Roadmap Strategi Penyediaan Air Batam menyampaikan prediksi krusial. Dalam proyeksi yang turut mempertimbangkan lonjakan kebutuhan air hingga 4.000 liter per detik seiring masifnya investasi di Rempang-Galang pada tahun 2029, titik rawan defisit air di Batam diperkirakan terjadi pada tahun 2028.
Mengantisipasi hal tersebut, Fesly merinci sejumlah strategi dalam roadmap. Strategi tersebut mencakup optimalisasi waduk yang ada, penurunan tingkat kebocoran air Non-Revenue Water/NRW dari 20 persen menjadi 10 persen, pemanfaatan kembali air dan pembangunan instalasi pengolahan air laut Sea Water Reverse Osmosis/SWRO.
Terkait SWRO, Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano menambahkan, pihaknya tak hanya fokus pada kebutuhan warga, namun juga mempertimbangkan kebutuhan industri, khususnya kehadiran data center yang membutuhkan pasokan air pendingin dalam jumlah besar.
Denny menyebut, untuk memenuhi kebutuhan data center dan mengantisipasi defisit, BP Batam akan mendorong masuknya investor untuk membangun instalasi SWRO.
Dua lokasi telah disiapkan di Nongsa, dengan tahap awal pembangunan direncanakan mencapai kapasitas 400 liter per detik, dari total proyeksi kebutuhan SWRO yang mencapai 1.000 liter per detik.
Di Kabil, instalasi SWRO berkapasitas 350 liter per detik juga tengah disiapkan untuk melayani kawasan industri setempat.
Dengan perpaduan optimalisasi infrastruktur yang ada dan masuknya investasi pengolahan air laut, BP Batam berharap Batam dapat keluar dari bayang-bayang krisis air dan mampu menjawab kebutuhan warga serta mendukung iklim investasi. (Red)











Discussion about this post