
Jakarta | beritabatam.co : Nama H. Ade Erfil Manurung, S.H. sudah tidak asing di kancah pergerakan aktivis Tanah Air. Merintis jalan dari seorang pemuda daerah yang merantau ke ibu kota hingga menjadi tokoh sentral di organisasi kemasyarakatan besar, perjalanannya dipenuhi aksi nyata membela masyarakat dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, setelah puluhan tahun berjuang di jalanan, Ade Erfil mengambil langkah besar. Ia mengundurkan diri demi persatuan organisasinya dan memulai babak baru di dunia politik.
Perjalanan itu dimulai sejak 1992. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Ade Erfil merantau dari Medan ke Jakarta dengan tekad ingin bersekolah dan berkembang di ibu kota. Sempat berpindah ke Bali pada 1995, ia kembali menetap di Jakarta pada 1996. Di sanalah panggilan jiwanya sebagai aktivis tumbuh.
Ia banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh senior, salah satunya mendiang Bang Edi Hartawan yang memiliki nama besar di Jakarta. Puncaknya terjadi pada masa pergolakan 1998-2000. Lepasnya Timor Timur menjadi pukulan berat sekaligus katalisator bagi Ade Erfil bersama aktivis lain termasuk Eurico Guterres untuk membentuk Forum Bersama Laskar Merah Putih.
“Pasca lepasnya Timor Timur, supaya tidak ada lagi daerah-daerah lain yang lepas, maka dibentuklah organisasi ini. Agar kita menjadi garda terdepan membela NKRI,” tegas Ade saat menjawab beritabatam.co, (22/07/26), di Jakarta.
Di bawah panji Laskar Merah Putih, ia mencatatkan sejumlah aksi yang menyita perhatian nasional. Pada 2002, bersama Alm. Edi Hartawan dan kawan-kawan, ia memimpin demonstrasi besar-besaran di Kedutaan Besar Malaysia menolak hukuman cambuk terhadap Tenaga Kerja Indonesia. Aksi itu berujung penangkapan beberapa anggota, namun berhasil menyuarakan penolakan tegas terhadap perlakuan tidak manusiawi.
Pada 2007, bersama Alm. Edi Hartawan dan kawan-kawan, ia kembali menggelar aksi di depan Kementerian Pertahanan. Mereka mendesak pemerintah bertindak tegas terhadap kelompok yang ingin memisahkan diri dari NKRI, seperti di Papua dan Maluku.
Pada periode 2008-2009, Laskar Merah Putih menjadi garda terdepan dalam mengawal kasus Manohara Odelia Pinot yang mengalami kekerasan oleh Pangeran Kelantan. Demonstrasi dilakukan hampir setiap minggu di Kedubes Malaysia hingga akhirnya Manohara berhasil kembali ke Tanah Air.
Setahun kemudian, pada 2009, mereka turun ke jalan membela para janda pahlawan yang dikriminalisasi dan terancam diusir dari rumah dinas. Aksi protes besar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur itu membuahkan hasil. Para janda pahlawan dibebaskan dan bahkan mendapatkan rumah dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu.
Setelah puluhan tahun membesarkan Laskar Merah Putih, Ade Erfil mengambil keputusan mengejutkan. Pada 21 April 2026, ia resmi mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum. Pengumuman disampaikan langsung di Markas Pusat LMP di kawasan Tomang, Jakarta Barat.
Keputusan itu bukan bentuk keputusasaan, melainkan wujud kedewasaan dan jiwa besar seorang pemimpin.
“Saya melihat anggota-anggota di bawah melemah karena adanya perpecahan di tubuh Laskar Merah Putih. Saya berjiwa besar mundur agar Laskar Merah Putih bisa bersatu kembali,” ungkapnya.
Ia kemudian memberikan dukungan penuh kepada Muhammad Arsyad Chanu untuk menjadi pimpinan definitif. Langkah itu terbukti tepat. Melalui rekonsiliasi dan Rapimnas, Markas Daerah hingga Markas Cabang yang sempat terpecah perlahan mulai kembali bergabung dan bersatu.
Meninggalkan jabatan pimpinan ormas tidak menghentikan langkah juang Ade Erfil. Kini ia memfokuskan energi untuk mengembangkan sayap Partai Rakyat Indonesia, yakni Patriot Rakyat Indonesia.
Dipercaya sebagai Ketua Pembina Patriot Rakyat Indonesia bersama Bapak Nazaruddin dan Ketua Umum Partai, Ade Erfil bergerak cepat. Hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan, konsolidasi yang ia pimpin membuahkan hasil luar biasa.
Patriot Rakyat Indonesia telah berhasil membentuk kepengurusan Dewan Pimpinan Daerah di berbagai provinsi strategis, meliputi Sumatera Utara, Lampung, Banten, DKI Jakarta yang tumbuh paling masif hingga tingkat anak ranting, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Aceh.
Target utama dari ekspansi masif ini adalah memastikan mesin politik siap mengantarkan Partai Rakyat Indonesia tampil dan berpartisipasi penuh dalam kontestasi Pemilu mendatang.
“Mudah-mudahan apa yang kita cita-citakan bersama dapat segera tercapai,” tutup Ade Erfil penuh optimisme. (Red)














Discussion about this post