
Jakarta | beritabatam.co : Niat hati membela klien atas dasar ‘panggilan nurani’, pengacara kondang Hotman Paris Hutapea kini justru harus berhadapan dengan badai kontroversi.
Sebelumnya, Hotman tampil menjadi kuasa hukum Febrie dengan dalih panggilan hati. Ia beralasan ingin menjaga marwah Presiden Prabowo Subianto yang ia rasa direndahkan oleh proses hukum terhadap kliennya.
Selain itu, Hotman juga menyoroti prestasi luar biasa Febrie yang diklaim berhasil mengembalikan uang ke kas negara sebesar Rp 430 triliun dalam setahun, terdiri dari Rp 300 triliun dari Satgas Penertiban Kawasan Hutan dan Rp 130 triliun pengembalian kerugian negara. Menurut Hotman, penetapan tersangka kliennya adalah bentuk kriminalisasi atau ‘balas dendam’ akibat keberanian Febrie mengusik zona nyaman para oligarki.
Namun narasi keadilan yang dibangun Hotman mendadak goyah akibat emosinya sendiri. Saat ditanya oleh wartawan mengenai dugaan kriminalisasi kliennya seusai pemeriksaan di Gedung Kejaksaan Agung, Hotman merespons dengan kalimat kasar, “Menurut kau gimana? Lu punya otak enggak?”.
Pernyataan tersebut sontak memicu kemarahan insan pers. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat merespons tegas dengan secara resmi melaporkan Hotman ke Polda Metro Jaya atas dugaan penghinaan terhadap profesi jurnalis. Langkah hukum ini diklaim didukung berbagai organisasi pers sebagai bentuk perlawanan terhadap pelecehan martabat kewartawanan.
Tekanan terhadap pengacara flamboyan ini tak berhenti di ranah hukum. Kantor hukum Hotman Paris & Partners di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, digeruduk ratusan massa yang menamakan diri Aktivis Connection, (20/07/26).
Massa membentangkan spanduk dan menuntut Hotman untuk berhenti melakukan “pembodohan publik” serta memintanya fokus pada pembuktian hukum di pengadilan alih-alih menyebarkan narasi sesat yang membuat gaduh ruang publik.
Menghadapi gelombang kecaman bertubi-tubi dari publik, jurnalis, hingga tokoh politik, Hotman akhirnya memilih meredakan situasi. Ia merilis pernyataan dan video permohonan maaf secara terbuka.
Dalam klarifikasinya, Hotman mengaku lepas kendali dan terpancing emosi karena terus dicecar pertanyaan yang sama berulang kali. Ia menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada PWI dan seluruh wartawan di Indonesia.
Tak hanya itu, Hotman juga menyampaikan permintaan maaf khusus kepada Presiden Prabowo Subianto, Jaksa Agung, dan Kapolri atas dinamika dan kegaduhan politik yang sempat menyeret nama Istana dalam pusaran kasus ini.
Kasus ini menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan panjang karier Hotman Paris. Publik kini menanti, apakah rentetan tekanan berat ini akan menyurutkan langkahnya dalam membela sang mantan Jampidsus, atau justru memicu strategi baru yang lebih matang di meja hijau. (Ben)













Discussion about this post