Batam | beritabatam.co – Sektor perikanan Kota Batam masih menunjukkan tren positif. Di tengah isu sulitnya zona tangkap, konsumsi ikan warga justru terus meningkat, didorong wisata kuliner dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Atmajianto, saat menjadi narasumber program Batam Menyapa di RRI Batam, Rabu (05/08/26) pagi.
“Alhamdulillah perikanan di Batam masih baik, terutama angka konsumsi ikan terus meningkat,” ujar Yudi yang saat itu tengah dalam perjalanan menuju Batam Center.
Menurutnya, MBG justru menjadi berkah bagi pembudidaya lokal. Pasalnya, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) kini langsung menyerap hasil budidaya untuk kebutuhan dapur MBG, sehingga petani ikan tidak lagi kesulitan memasarkan hasil panen.
Yudi menyebut, inovasi budidaya kini merambah pulau-pulau. Di Pulau Karas, Kecamatan Galang, misalnya, kini sudah ada pembudidaya ikan lele yang mampu mengirim 400-500 kg per bulan ke Batam.
“Di Karas sekarang sudah ada pembudidaya lele. Walaupun masyarakat Melayu tidak terlalu banyak makan ikan air tawar, ini bisa jadi nilai tambah dan pemasukan,” jelasnya.
Untuk ikan laut, kebutuhan Batam mencapai 18-20 ton per hari. Pasokan dipenuhi dari Natuna dan Anambas, terutama ikan tongkol dan mata besar, karena perairan Batam didominasi ikan karang seperti kerapu dan kakap yang justru banyak diekspor ke Singapura.
Sementara ikan air tawar murni dipasok dari Batam sendiri, sekitar 5-8 ton per hari, tersebar di Galang, Sei Beduk, dan Nongsa, untuk kebutuhan rumah makan padang, ikan bakar, hingga bahan baku pempek.
Untuk mengatasi keterbatasan lahan di perkotaan, Pemko Batam mendorong teknologi bioflok. Tercatat sudah ada 200 kolam bantuan pemerintah, dan jika ditambah swadaya serta binaan TNI/Polri, total mencapai sekitar 500 kolam produktif. 50 persen pasokan air tawar bahkan berasal dari wilayah Barelang.
“Diameternya cukup kecil, cuma 3 meter. Bisa dibuat di pekarangan atau yayasan. Peluang masih sangat besar melihat tren konsumsi dan wisata kuliner,” kata Yudi.
Bagi warga yang ingin mendapatkan bantuan, Yudi menjelaskan harus tergabung dalam kelompok. Nelayan dalam wadah Kelompok Usaha Bersama (KUB) dan pembudidaya dalam Pokdakan. Pengajuan tahun ini akan direalisasikan tahun depan, lengkap dengan pelatihan dan pendampingan penyuluh.
Selain perikanan budidaya, Yudi juga mengupdate progres program nasional Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang menjadi program Presiden Prabowo Subianto.
Tahun 2025 lalu, Kepri mendapat 4 titik, tiga di Batam dan satu di Natuna. Tiga titik di Batam yang sudah beroperasi adalah di Sembulang Tanjung Banun, Kampung Nelayan di Kasu, dan Sekanak Raya di Belakang Padang. Fasilitasnya lengkap mulai dari pabrik es, cold storage 20 ton, sentra kuliner, hingga pelantar.
Untuk tahun 2026, Batam mengusulkan 6 lokasi baru setelah adanya penambahan kuota Kepri menjadi 100 kampung. Enam lokasi tersebut adalah:
1. Ngenang, Kecamatan Nongsa
2. Kampung Bagan, Kecamatan Sei Beduk
3. Temoyong, Kecamatan Bulang
4. Pulau Karas, Kecamatan Galang
5. Bulang Lintang, Kecamatan Bulang
6. Pulau Terong, Kecamatan Belakang Padang
“Keenam titik ini sudah dilakukan verifikasi dan survei topografi oleh Kementerian KKP. Kita tinggal menunggu keputusan SK Menteri, Insya Allah bulan Agustus ini,” ungkap Yudi.
Ia menjelaskan, anggaran pembangunan murni dari APBN melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, sementara daerah bertugas mengusulkan dan menyiapkan lahan yang _clear and clean_. Syarat utamanya, lahan harus tersedia, ada dukungan listrik dan air, serta 80 persen penduduknya adalah nelayan.
Salah satu urgensi pembangunan di Pulau Karas, misalnya, adalah untuk mendekatkan akses BBM nelayan yang selama ini harus mengambil minyak jauh ke Pulau Setokok, Jembatan 6.
Konsep KNMP, lanjut Yudi, adalah terintegrasi. Di satu kawasan akan ada tempat pendaratan ikan, pabrik es, cold storage, SPBU Nelayan, hingga sentra kuliner tempat pengunjung bisa langsung menikmati ikan segar.
“Konsepnya wisata kuliner di lokasi pendaratan. Ikan naik, langsung dibakar dan dinikmati di tempat. Jadi pusat ekonomi baru,” jelasnya.
Menariknya, Batam menjadi pelopor KNMP di atas laut. Jika sebelumnya KKP mensyaratkan pembangunan di darat, usulan dari Batam yang memiliki budaya pesisir rumah panggung seperti di Kasu dan Sekanak Raya, kini diakomodir dan menjadi model nasional.
Yudi pun membuka peluang bagi masyarakat yang ingin mengusulkan kampungnya untuk tahun 2027. Warga bisa melapor ke Lurah, penyuluh perikanan, atau langsung ke Dinas Perikanan Kota Batam. Beberapa usulan baru seperti dari Pulau Panjang dan Pulau Abang, Kecamatan Galang, sudah masuk dalam daftar antrean.
Di akhir dialog, ia mengajak masyarakat untuk terus gemar makan ikan.
“Makan ikan itu protein dan omega 3 nya bagus, cegah stunting untuk anak. Kalau kita banyak konsumsi ikan, otomatis menyerap hasil nelayan, ekonomi nelayan berputar dan semakin sejahtera,” tutupnya. (Ben)













Discussion about this post