beritabatam.co
  • Home
  • Kepri
  • Batam
  • Internasional
  • Nasional
  • Viral
  • Hukrim
Jumat, Oktober 16, 2026
  • Login
  • Home
  • Utama
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Internasional
  • Viral
  • Hukrim
  • Home
  • Utama
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Internasional
  • Viral
  • Hukrim
No Result
View All Result
beritabatam.co
No Result
View All Result
Home Opini

Fatherless Bukan Tentang Ayah yang Pergi, Tetapi Kehadiran yang Tak Terasa

Ade Suhandi, Penulis Buku Cahaya di Ujung Lelah Ayah

Berita Batam by Berita Batam
Oktober 16, 2026
0

Jakarta – beritabatam.co – Ada anak yang setiap hari melihat ayahnya pulang ke rumah, tetapi tidak pernah benar-benar merasa dekat dengannya.

Ada anak yang tinggal bersama kedua orang tuanya, tetapi harus mencari sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan.

Ada pula anak yang tumbuh dengan prestasi membanggakan, tetapi diam-diam menyimpan kerinduan sederhana: ingin didengarkan, dipeluk, dihargai, dan sesekali ditanya, “Bagaimana harimu hari ini?”

Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, kita perlu berani membicarakan satu persoalan yang tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya dapat terasa dalam perjalanan panjang kehidupan seorang anak: fatherless.

Istilah ini kerap dipahami sebagai kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah akibat perceraian, kematian, perpisahan, atau keadaan keluarga lainnya.

Namun, dalam pembicaraan tentang pengasuhan, ada pula persoalan yang tidak kalah penting, yaitu ketika sosok ayah hadir secara fisik, tetapi minim keterlibatan emosional, komunikasi, dan pendampingan dalam kehidupan anak.

Seorang ayah mungkin bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia memastikan anak-anak mendapatkan makanan, pendidikan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak.

Akan tetapi, di balik semua tanggung jawab itu, ada satu pertanyaan yang patut kita renungkan: apakah anak juga merasakan kehadiran ayah dalam kehidupan batinnya?

Sebab, anak tidak hanya membutuhkan ayah yang mampu membayar biaya sekolah. Mereka juga membutuhkan ayah yang bersedia mendengarkan cerita tentang sekolahnya.

Mereka tidak hanya membutuhkan fasilitas untuk tumbuh, tetapi juga hubungan yang membuat mereka merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Kita hidup pada masa ketika tuntutan ekonomi, persaingan pekerjaan, perubahan teknologi, dan derasnya arus informasi menyita perhatian banyak orang tua. Tidak sedikit ayah yang berangkat ketika anak belum bangun dan pulang ketika anak sudah tertidur.

Bagi sebagian keluarga, situasi tersebut bukan pilihan yang mudah. Ada tanggung jawab yang harus ditunaikan, kebutuhan yang harus dipenuhi, dan masa depan anak yang harus diperjuangkan.

Karena itu, membicarakan fatherless tidak seharusnya dimulai dengan menyalahkan ayah. Banyak ayah justru sedang berjuang dalam diam, menanggung tekanan pekerjaan, persoalan ekonomi, dan beban yang tidak selalu mampu mereka ceritakan kepada siapa pun.

Namun, kita juga perlu memahami bahwa kerja keras seorang ayah dan kebutuhan emosional seorang anak adalah dua hal yang sama-sama penting.

Anak mungkin belum memahami mengapa ayah harus bekerja begitu lama. Mereka belum mengerti besarnya biaya hidup atau beratnya tanggung jawab mencari nafkah. Yang mereka pahami adalah pengalaman sehari-hari: ayah jarang berada di rumah, percakapan terasa singkat, dan cerita mereka sering kali harus menunggu sampai waktu yang entah kapan.

Dalam situasi tertentu, jarak itu perlahan menjadi kebiasaan. Ayah terbiasa menunjukkan kasih sayang melalui pemberian materi, sementara anak terbiasa menyimpan perasaan tanpa tahu bagaimana menyampaikannya.

Rumah tetap berdiri. Kebutuhan tetap terpenuhi. Aktivitas keluarga terus berjalan. Namun, kedekatan emosional yang seharusnya tumbuh di antara ayah dan anak dapat perlahan memudar.

Di sinilah kita perlu membedakan antara bekerja untuk anak dan hadir bersama anak. Keduanya bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan dua bentuk tanggung jawab yang perlu berjalan beriringan.

Sering kali, seorang ayah membayangkan bahwa kebahagiaan anak harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar: sekolah terbaik, kendaraan yang layak, rumah yang nyaman, atau kesempatan meraih pendidikan setinggi mungkin.

Semua itu tentu berharga. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari, kebutuhan emosional anak terkadang hadir melalui hal-hal yang sederhana.

Anak ingin ayahnya menatap wajahnya ketika berbicara. Ingin ceritanya didengarkan tanpa langsung dihakimi. Ingin kesalahannya diperbaiki tanpa selalu dibandingkan dengan orang lain. Ingin merasakan bahwa kegagalan tidak membuatnya kehilangan kasih sayang.

Bagi seorang anak, pertanyaan “Kamu sedang punya masalah apa?” bisa menjadi pintu untuk menceritakan sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Kalimat “Ayah bangga kamu sudah berusaha” dapat memberikan kekuatan ketika ia merasa tidak cukup baik.

Bahkan, kehadiran ayah yang duduk di sampingnya tanpa banyak bicara terkadang lebih bermakna daripada nasihat panjang yang disampaikan tanpa kesempatan untuk mendengarkan.

Kita tidak boleh menganggap semua anak yang tumbuh tanpa keterlibatan ayah pasti mengalami masalah. Setiap anak memiliki pengalaman, daya lenting, dan dukungan lingkungan yang berbeda.

Demikian pula, kehadiran ayah bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan anak.

Namun, hubungan yang hangat, aman, dan konsisten dengan ayah dapat menjadi salah satu sumber dukungan penting bagi perkembangan emosional dan sosial anak.

Karena itu, pertanyaannya bukan sekadar berapa banyak waktu yang dimiliki seorang ayah, melainkan bagaimana waktu yang tersedia digunakan untuk membangun hubungan.

Sejatinya, anak tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka membutuhkan ayah yang mau belajar, mengakui kesalahan, dan berusaha hadir dengan lebih baik.

Di balik pembicaraan tentang fatherless, ada sisi lain yang perlu mendapat ruang: kondisi para ayah itu sendiri.

Sejak lama, banyak laki-laki dibesarkan dengan keyakinan bahwa mereka harus kuat, tidak boleh mengeluh, tidak boleh terlihat rapuh, dan harus selalu mampu menyelesaikan persoalan.

Akibatnya, sebagian ayah tumbuh dengan kemampuan bekerja keras, tetapi tidak terbiasa mengungkapkan perasaan.

Mereka tahu bagaimana mencari nafkah, tetapi belum tentu tahu bagaimana membicarakan kecemasan. Mereka terbiasa memberikan solusi, tetapi mungkin kesulitan menemani anak yang hanya ingin didengarkan.

Mereka berusaha menjadi pelindung keluarga, tetapi kadang lupa bahwa perlindungan juga dapat hadir melalui kelembutan.

Ketika tekanan ekonomi bertemu dengan tuntutan sosial tentang bagaimana seorang ayah seharusnya bersikap, kelelahan dapat menumpuk.

Ada yang memilih diam, ada yang menjadi mudah marah, dan ada pula yang menarik diri dari percakapan keluarga karena merasa tidak memiliki cukup tenaga untuk menjelaskan apa yang sedang dialaminya.

Memahami keadaan ini bukan berarti membenarkan pengabaian terhadap kebutuhan anak. Sebaliknya, memahami kelelahan ayah membantu kita melihat persoalan secara lebih utuh.

Ayah membutuhkan ruang untuk bertumbuh, belajar, dan memperoleh dukungan.

Mereka juga perlu menyadari bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kegagalan. Berbicara dengan pasangan, mencari dukungan keluarga, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional ketika diperlukan merupakan langkah yang wajar.

Kita tidak sedang memilih antara membela ayah atau membela anak. Kita sedang berusaha membangun keluarga yang memungkinkan keduanya bertumbuh dengan lebih sehat.

Sebab, ayah yang diberi ruang untuk memahami dirinya sendiri memiliki kesempatan lebih besar untuk memahami anak-anaknya.

Menjadi ayah bukan hanya tentang status dalam sebuah keluarga.

Menjadi ayah adalah perjalanan panjang untuk belajar hadir, mendengarkan, melindungi, memberikan teladan, dan membimbing anak mengenali kehidupannya.

Tidak semua ayah memulai perjalanan ini dengan bekal emosional yang cukup. Sebagian tumbuh tanpa teladan ayah yang dekat.

Sebagian tidak pernah terbiasa mendapatkan pelukan atau mendengar ungkapan kasih sayang. Sebagian lainnya baru menyadari pentingnya kedekatan setelah anak-anak beranjak dewasa.

Kabar baiknya, hubungan tidak selalu harus dimulai dari perubahan besar. Banyak hal dapat diperbaiki melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Ayah dapat memulai dengan menyediakan waktu khusus untuk berbicara dengan anak, meskipun hanya beberapa menit setiap hari. Letakkan telepon ketika anak sedang bercerita.

Dengarkan lebih dahulu sebelum memberikan nasihat. Kenali minat, ketakutan, dan cita-cita mereka. Jangan hanya bertanya tentang nilai rapor, tetapi tanyakan juga bagaimana perasaan mereka menjalani hari.

Jika pernah bersikap terlalu keras, ayah dapat belajar meminta maaf. Jika selama ini komunikasi terasa kaku, mulailah dengan percakapan ringan. Jika hubungan telanjur berjarak, jangan menuntut kedekatan hadir dalam satu malam.

Yang terpenting adalah membangun kembali kepercayaan melalui tindakan yang berulang.

Bagi ayah yang hidup terpisah dari anak, keterlibatan tetap dapat diupayakan sesuai keadaan, selama aman dan memungkinkan. Konsistensi dalam berkomunikasi, menepati janji, serta menghormati kebutuhan anak dapat menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan.

Sementara itu, keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sosial juga memiliki peran untuk mendukung pengasuhan. Persoalan fatherless tidak semestinya menjadi beban yang dipikul seorang anak sendirian, apalagi dijadikan alasan untuk memberi stigma kepada keluarga dengan keadaan yang beragam.

Kita membutuhkan budaya yang tidak hanya mengagungkan ayah sebagai pencari nafkah, tetapi juga menghargai ayah sebagai pendamping pertumbuhan manusia.

Cahaya di Ujung Lelah Ayah: Sebuah Refleksi tentang Perjuangan dan Kehadiran

Sebagai penulis buku Cahaya di Ujung Lelah Ayah, saya memandang kehidupan seorang ayah sebagai perjalanan yang menyimpan banyak cerita: tentang tanggung jawab, pengorbanan, ketakutan, harapan, dan kasih sayang yang terkadang tidak pandai diungkapkan dengan kata-kata.

Ada ayah yang tidak pernah bercerita tentang kesulitannya karena tidak ingin keluarganya ikut terbebani. Ada yang mengukur keberhasilan dirinya dari kemampuan menyediakan segala sesuatu bagi anak-anaknya. Ada pula yang baru menyadari bahwa waktu berjalan begitu cepat ketika anak-anak mulai memiliki kehidupan sendiri.

Di antara semua perjuangan itu, ada satu hal yang layak terus diingat: jangan sampai kelelahan mencari masa depan membuat kita kehilangan kesempatan untuk hadir pada masa kini.

Judul Cahaya di Ujung Lelah Ayah mengajak kita melihat bahwa di balik kelelahan, selalu ada ruang untuk menemukan makna. Cahaya itu bukan semata-mata tentang keberhasilan anak, kecukupan materi, atau kebanggaan keluarga.

Cahaya itu juga dapat berupa hubungan yang semakin hangat, keberanian untuk meminta maaf, kesediaan untuk mendengarkan, dan kesempatan memperbaiki hal-hal yang selama ini terabaikan.

Bagi saya, buku ini bukan ajakan untuk menghakimi ayah yang belum mampu memenuhi semua harapan keluarganya. Bukan pula tuntutan agar setiap ayah selalu kuat dan sempurna.

Sebaliknya, buku ini merupakan undangan untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh, dan bertanya dengan jujur: sudahkah perjuangan kita sebagai ayah benar-benar dirasakan oleh anak-anak kita?

Sebab, pengorbanan yang besar tetap membutuhkan jembatan agar dapat dirasakan sebagai kasih sayang. Dan jembatan itu dibangun melalui komunikasi, perhatian, keteladanan, serta kehadiran yang nyata.

Saya percaya, seorang ayah tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk mulai memperbaiki hubungannya dengan anak. Ia hanya perlu berani memulai, meskipun dari langkah yang paling sederhana.

Ada masa ketika anak begitu bersemangat menyambut kepulangan ayahnya. Mereka berlari menyambut dari pintu, mengajak bermain, atau bercerita tentang hal-hal kecil yang bagi orang dewasa mungkin terasa biasa.

Namun, waktu bergerak. Anak tumbuh. Dunia mereka semakin luas. Percakapan yang dahulu mudah dimulai perlahan dapat berubah menjadi jawaban singkat. Kesempatan untuk menemani mereka pun tidak selalu tersedia seperti dahulu.

Kita tidak perlu menunggu sebuah peristiwa besar untuk menyadari betapa berharganya kehadiran seorang ayah. Tidak perlu menunggu anak mengalami kegagalan, kehilangan arah, atau menghadapi persoalan berat untuk mulai membangun komunikasi.

Mulailah hari ini.

Jika anak masih kecil, temani ia bermain. Jika ia beranjak remaja, hormati ruang pribadinya tanpa kehilangan kedekatan.

Jika ia sudah dewasa, bangun hubungan yang menghargai pilihannya. Dan jika selama ini ada jarak yang telanjur terbentuk, bukalah pintu percakapan tanpa memaksa anak segera melupakan luka yang mungkin pernah dirasakannya.

Menjadi ayah bukan perlombaan untuk membuktikan siapa yang paling banyak berkorban. Menjadi ayah adalah kesediaan untuk terus belajar mencintai dengan cara yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang kita cintai.

Pada akhirnya, anak mungkin tidak mengingat semua barang yang pernah kita belikan. Mereka mungkin lupa berapa banyak uang yang kita keluarkan untuk memenuhi kebutuhannya.

Namun, pengalaman ketika didengarkan, didukung, dihargai, dan merasa aman bersama ayah dapat menjadi bagian penting dari kenangan yang mereka bawa sepanjang hidup.

Kita tidak selalu dapat mengubah masa lalu. Akan tetapi, selama masih ada kesempatan, kita dapat memilih untuk membangun masa depan hubungan yang lebih baik.

Jangan sampai anak tumbuh dengan pertanyaan tentang ke mana ayahnya pergi, padahal yang paling mereka rindukan adalah kehadiran ayah yang sesungguhnya.

Sebab, pada akhirnya, warisan terbesar seorang ayah bukan hanya apa yang berhasil ia tinggalkan, melainkan juga nilai-nilai yang ia tanamkan dan cinta yang sempat ia hadirkan.

Semoga setiap ayah menemukan cahaya di ujung lelahnya. Dan semoga setiap anak tidak hanya mewarisi hasil perjuangan ayahnya, tetapi juga sempat merasakan hangatnya kehadiran sang ayah dalam perjalanan hidupnya. (As)

ShareTweetSend

Related Posts

Pemerintah Kota (Pemko) Batam memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja rentan, termasuk nelayan, pengemudi ojek daring, petani, pengayuh becak, hingga pekerja sosial keagamaan.
Foto: mediacenterbatam
Batam

Pemko Batam Perluas Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, dari Nelayan hingga Pengemudi Ojol

Oktober 16, 2026
Sebanyak 321.932 pekerja di Kota Batam telah terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan hingga Agustus 2026.
Foto: mediacenterbatam
Batam

321.932 Pekerja Batam Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan, Pemko Bidik 70 Ribu Peserta Tambahan

Oktober 16, 2026
Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan berbagai penanganan taktis dan terukur untuk memastikan ketercukupan kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya di wilayah Nongsa dan sekitarnya, di tengah fenomena cuaca ekstrem El Niño yang berdampak pada penurunan curah hujan regional.
Foto: BP Batam
Batam

Siapkan Ketahanan Air, BP Batam Buka Peluang Kerja Sama Kemitraan

Oktober 16, 2026

Discussion about this post

Popular Stories

  • Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan berbagai penanganan taktis dan terukur untuk memastikan ketercukupan kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya di wilayah Nongsa dan sekitarnya, di tengah fenomena cuaca ekstrem El Niño yang berdampak pada penurunan curah hujan regional.
Foto: BP Batam

    Siapkan Ketahanan Air, BP Batam Buka Peluang Kerja Sama Kemitraan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Investasi Data Center di Batam Disorot, Cak Tain Pertanyakan Dampak terhadap Air dan Listrik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fatherless Bukan Tentang Ayah yang Pergi, Tetapi Kehadiran yang Tak Terasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Berita Terbaru

Fatherless Bukan Tentang Ayah yang Pergi, Tetapi Kehadiran yang Tak Terasa

Oktober 16, 2026
Pemerintah Kota (Pemko) Batam memperluas perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi pekerja rentan, termasuk nelayan, pengemudi ojek daring, petani, pengayuh becak, hingga pekerja sosial keagamaan.
Foto: mediacenterbatam

Pemko Batam Perluas Perlindungan BPJS Ketenagakerjaan, dari Nelayan hingga Pengemudi Ojol

Oktober 16, 2026
Sebanyak 321.932 pekerja di Kota Batam telah terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan hingga Agustus 2026.
Foto: mediacenterbatam

321.932 Pekerja Batam Terlindungi BPJS Ketenagakerjaan, Pemko Bidik 70 Ribu Peserta Tambahan

Oktober 16, 2026
Badan Pengusahaan (BP) Batam terus melakukan berbagai penanganan taktis dan terukur untuk memastikan ketercukupan kebutuhan air bersih masyarakat, khususnya di wilayah Nongsa dan sekitarnya, di tengah fenomena cuaca ekstrem El Niño yang berdampak pada penurunan curah hujan regional.
Foto: BP Batam

Siapkan Ketahanan Air, BP Batam Buka Peluang Kerja Sama Kemitraan

Oktober 16, 2026
Pengamat Kebijakan Publik, Tain Komari
Foto: Istimewa

Investasi Data Center di Batam Disorot, Cak Tain Pertanyakan Dampak terhadap Air dan Listrik

Oktober 15, 2026
Oktober 2026
S S R K J S M
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
« Sep    
beritabatam.co

www.beritabatam.co portal media online berbasis di kota Batam Kepulauan Riau, Indonesia  Bacalah…Cerdas

INFORMASI

  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber

FOLLOW US

Facebook Instagram Youtube

© 2022 BERITABATAM.CO - All Rights Reserved.

No Result
View All Result
  • Home
  • Utama
  • Batam
  • Kepri
  • Nasional
  • Internasional
  • Viral
  • Hukrim

© 2022 BERITABATAM.CO - All Rights Reserved.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Exit mobile version