
Batam | beritabatam.co : Ketua Komite Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (KPLHI) Kota Batam, Azhari Hamid menyayangkan instansi terkait tidak menanggapi atas dampak kegiatan PT TIS yang diduga beroperasi secara ilegal di kawasan Batu Aji.
Selain beroperasi dengan menggunakan dokumen PT. Tan Indo Sukses (PT. TIS) yang beroperasi di Kawasan Industri Kara, Azhari menyebutkan pihaknya sudah pernah melaporkan Ke Gakkum KLHK terkait penyemaran lingkungan yang berdampak langsung ke masyarakat sekitar.
Dikatakannya sampai saat ini hasil dari penyidikan KLHK belum ada titik terang sementara konfirmasi terakhir yang dilakukan oleh KPLHI ke Gakkum KLHK di dapat informasi bahwa status penyidikan sudah masuk dalam tahapan pidana lingkungan.
Namun jelas Mantan PNS Itu, sampai saat ini KPLHI tidak mengerti mengapa kasus ini tidak ada perkembangan.
KPLHI sangat menyayangkan jika kelanjutan kasus ini jalan ditempat sementara masyarakat terus menerima dampak dari kegiatan PT. TIS yang berada di wilayah Batu aji tersebut.
Dijelaskannya, dalam laporan sebelumnya PT. TIS telah melakukan pembuangan limbah cair ke drainase umum bahkan terjadi overflow yang mengalir ke pemukiman.
Pada saat kejadian, beberapa warga mengaku menerima dampak buruk kesehatan masyarakat seperti masalah pernafasan dan paru dampak dari polusi asap.
“Ada juga dampak terhadap kulit akibat cemaran terhadap sumber air masyarakat,” ucapnya.
Sebelumnya Ketua RT/RW 02/019, Desi mengatakan bahwa penanganan Limbah perusahaan tersebut tampak carut marut.
“Sebab limbah yang berbentuk cairan itu telah merembes kemana-mana hingga ke rumah-rumah warga sekitar,” sebut Desi.
Desi mengaku pernah mencoba mendatangi pihak perusahaan didampingi beberapa warga karena rembesen air yang bisa mengakibatkan kaki gatal-gatal.
“Namun satupun pihak perusahaan tidak ada yang bisa ditemui bahkan merespon keluhan kami ini pak. Mirisnya pintu gerbang perusahaan pun ditutup, hanya bisa komunikasi dengan sekuriti di luar,” ungkapnya.
Tak hanya itu, bahkan limbah perusahaan tersebut sudah mencemari sumur warga sekitar. Dimana sebelumnya warga kampung Seisamak memiliki dua sumur yang merupakan sumber air bersih warga.
“Namun, setelah merembesnya limbah perusahaan ke Sumur sejak kurang lebih enam bulan berdirinya perusahaan itu, akhirnya warga hanya mengandalkan satu sumur untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi, nyuci dan masak,” bebernya. (Ben)














Discussion about this post