Batam | beritabatam.co – Insiden blackout total yang melumpuhkan Batam, Bintan hingga Tanjungpinang awal pekan ini memantik reaksi keras dari kalangan ahli. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (Appeknas) Dr. Ir. Fandy Iood, ST.,M.PWK menilai pemadaman tersebut bukan sekadar gangguan biasa, melainkan kegagalan fatal.
Sebagai insinyur teknik elektro dan praktisi kontraktor kelistrikan, Dr. Fandy menyebut blackout adalah skenario terburuk dalam sistem kelistrikan yang seharusnya tidak terjadi tanpa adanya force majeure.
“Ini tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba blackout. Itu fatality! Di dalam aturan grid kelistrikan, blackout itu memang sangat fatal,” ujar Dr. Fandy.
Ia membandingkan insiden Batam dengan blackout sistem Jawa-Bali beberapa tahun silam yang berujung pada pergantian Direktur Utama PLN Pusat. Menurutnya, hal yang sama harus berlaku di PLN Batam sebagai bentuk tanggung jawab moral dan profesionalisme.
“Waktu blackout Jawa-Bali, Dirut PLN Pusat diganti atau tidak? Diganti, kan! Kalau ini terjadi, secara profesional, pejabat yang digaji oleh negara dari pajak rakyat, kalau gagal harusnya punya rasa malu. Tanpa dipecat pun, dia harus gentleman mengundurkan diri,” desaknya.
Dr. Fandy juga menolak rilis awal yang menyebut gangguan diduga dipicu hewan liar yang masuk ke Gardu Induk Sungai Harapan. Ia menilai alasan tersebut tidak logis untuk memicu blackout yang mematikan belasan Gardu Induk secara serentak.
“Saya sarjana teknik elektro, bisnis saya juga kontraktor listrik. Kalau dibilang gara-gara hewan, logika saya tidak bisa menerimanya. Di Batam itu ada sekitar 16 Gardu Induk. Bayangkan, kalau mati semua, berarti ada 16 monyet atau belut serentak di 16 gardu itu? Ini kan guyon,” sindirnya.
Ia menyayangkan manajemen yang terlalu cepat mengeluarkan pernyataan sebelum investigasi teknis tuntas.
“Seharusnya PLN lebih baik diam dulu, cari root cause yang tepat secara teknis, baru buat statement yang bisa dipertanggungjawabkan. PLN itu punya standar manajemen ISO dan SMK3, seharusnya mereka punya countermeasure untuk skenario the worst case seperti ini,” jelasnya.
Dari kacamata Appeknas, dampak blackout sangat sistemik. Pekerjaan konstruksi yang mengandalkan alat berat listrik sangat rentan bahaya jika listrik mati mendadak. Rantai pasok seperti pabrik beton ready mix juga mengalami kerugian akibat rusaknya material yang tengah diproses.
Di akhir pernyataannya, Dr. Fandy mengingatkan kontradiksi antara ambisi menarik investasi besar seperti Data Center dengan keandalan infrastruktur.
“Batam berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Ketersediaan tenaga listrik adalah kewajiban negara sesuai UUD 1945 pasal 33. Kalau keandalan listriknya seperti ini, bagaimana kita mau bicara soal ketahanan ekonomi dan pertahanan negara?” pungkasnya. (Red)











Discussion about this post