
Nasional | beritabatam.co – Menjadi guru bukan sekadar mengajar di depan kelas. Di balik profesi tersebut terdapat begitu banyak pengalaman: menghadapi siswa dengan beragam karakter, menemukan metode pembelajaran, menghadapi kegagalan, merayakan keberhasilan, hingga menyaksikan perubahan kecil yang sangat berarti dalam diri seorang anak.
Sayangnya, banyak pengalaman berharga itu hanya berhenti sebagai cerita dan akhirnya terlupakan. Padahal, pengalaman seorang guru adalah sumber pengetahuan yang sangat berharga.
Karena itu, Ade Suhandi, penulis buku self improvement, educator dan communication practitioner, sekaligus Kepala Sub Divisi Penyiaran Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPIJ), mendorong para guru untuk mengubah pengalaman mengajar menjadi tulisan dan buku.
“Guru tidak harus menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Guru cukup mulai mendokumentasikan apa yang sudah mereka alami, pikirkan, dan pelajari dari proses mengajar.” pungkasnya, saat ditemui di kantornya di Jakarta Islamic Center, Jum’at (09/10/26).
Menurut Ade, panggilan akrabnya. Guru tidak perlu mencari bahan tulisan terlalu jauh. Cerita itu sudah ada di ruang kelas. Ada dalam pengalaman menghadapi siswa, keberhasilan sebuah metode, kegagalan pembelajaran, percakapan dengan orang tua, maupun perubahan kecil yang terjadi pada peserta didik.
Pengalaman akan menjadi pengetahuan ketika guru mau merefleksikannya. Apa yang terjadi? Apa yang saya pelajari? Apa manfaatnya bagi orang lain?.
Dari refleksi itulah pengalaman dapat berubah menjadi tulisan, dan tulisan dapat berkembang menjadi buku.
“Saya percaya, pengalaman yang kita refleksikan bisa menjadi pengetahuan. Dan pengetahuan yang kita tuliskan bisa menjadi cahaya bagi orang lain,” ungkap Ade.
Salah satu alasan guru enggan menulis adalah merasa belum pandai menulis atau menunggu waktu yang tepat.
Padahal, buku tidak harus dimulai dari ratusan halaman. Mulailah dari satu pengalaman. Satu cerita. Satu pembelajaran. Satu halaman. pesannya.
Sebagai penulis buku self improvement, Ade melihat menulis juga merupakan proses memahami diri dan menemukan makna dari perjalanan hidup.
“Jangan menunggu tulisan sempurna untuk mulai menulis. Tulislah dulu pengalaman yang paling dekat dengan kita. Setelah itu, kita belajar memperbaikinya,” ujarnya.
Menurutnya, di era digital, guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga dapat menjadi produsen pengetahuan dan komunikator pendidikan. Pengalaman mengajar dapat menjadi artikel, konten media sosial, materi webinar, podcast, hingga buku, ujarnya.
Sebagai Kepala Sub Divisi Penyiaran PPIJ, Ade melihat ruang komunikasi saat ini semakin terbuka. Masyarakat membutuhkan lebih banyak informasi yang edukatif, bermakna, dan lahir dari pengalaman nyata.
“Di era digital, guru jangan hanya menjadi konsumen informasi. Guru juga harus berani menjadi produsen pengetahuan,” kata Ade.
Bagi Ade, buku bukan sekadar prestise. Buku adalah jejak pemikiran, dokumentasi perjalanan, dan warisan ilmu.
Seorang guru mungkin mengajar selama puluhan tahun. Jika pengalaman itu hanya disimpan dalam ingatan, suatu saat akan hilang. Tetapi jika dituliskan, pengalaman tersebut dapat terus mengajar bahkan ketika sang guru sudah tidak lagi berada di ruang kelas, paparnya.
Karena itu, Ade mengajak para guru untuk bangkit dan mulai menulis.
“Jangan hanya mengajar. Dokumentasikan. Jangan hanya mengalami. Refleksikan. Jangan hanya berbagi di ruang kelas. Bagikan kepada dunia. Tidak perlu menunggu sempurna. Ambil buku catatan. Buka laptop. Tuliskan satu pengalaman. Tuliskan satu pelajaran. Tuliskan satu kisah.” ucapnya memotivasi.
Ditambahkannya, sebab buku selalu lahir dari halaman pertama yang berani ditulis. Dan mungkin, tulisan yang dimulai hari ini akan menjadi jawaban bagi seorang guru, siswa, orang tua, atau generasi yang membutuhkannya di masa depan. (Red)











Discussion about this post