
Batam | beritabatam.co : Rencana BP Batam mewajibkan industri data center di Kabil dan KEK Nongsa membangun instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) hingga kapasitas 1.000 liter per detik menuai kritik dari pengamat.
Pengamat Kota Batam, Azhari Hamid, menilai narasi kelebihan kapasitas SWRO bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat belum realistis dan perlu diluruskan secara teknis dan lingkungan.
“Sorry, saya harus luruskan analisanya. Yang dimaksud perusahaan akan menampung 86 juta liter per hari itu mau ditaruh di mana? 1.000 liter per detik kalau dihitung 24 jam itu 86,4 juta liter. Akan didistribusikan bagaimana? Seperti operasional ABH? Berapa lagi cost untuk bangun infrastrukturnya?” ujar Azhari, Pensiunan Pegawai Negeri yang lama mengamati isu air di Batam.
Ia mempertanyakan skema penyaluran air hasil desalinasi. Menurutnya, wacana menyalurkan ke Dam Nongsa tidak masuk akal.
“Mau disalurkan ke Dam Nongsa…? Akan sangat mengerikan kondisi air laut kita kalau itu terjadi,” katanya.
Azhari menegaskan, air hasil SWRO belum ada jaminan bisa digunakan untuk kebutuhan rumah tangga secara langsung. Paling mentok hanya sebagai air bersih, bukan air minum.
“Bisa kah kita bayangkan orang-orang nanti nunggu jatah air di depan kantor perusahaan data center? Atau produk data center itu dialirkan ke dam seperti yang saya bilang di atas?” sindirnya.
Ia membandingkan kapasitas yang dijanjikan dengan kondisi eksisting. Produksi 1.000 liter per detik setara dengan produksi satu PDAM. Sementara seluruh unit produksi SPAM di Batam saat ini hanya mampu memproduksi 4.000 – 4.500 liter per detik, yang menurutnya seharusnya sudah cukup untuk 1,3 juta jiwa jika dikelola untuk rumah tangga.
“Yang paling mengerikan adalah air pasca pemakaian yang panas dan ada pengaruh kimia mau dikemanakan sebanyak itu? Mau dibalikin ke laut?” ujarnya.
Dari sisi investasi, Azhari menilai perusahaan pasti akan menghitung secara bisnis. Tidak mungkin membangun kapasitas jumbo yang melebihi kebutuhan hanya untuk dibagikan.
“Boleh saja dia menghayal buat kapasitas segitu. Nggak sesederhana yang dia pikir dan perusahaan mana yang mau rugi. Pasti perusahaan hanya akan buat disesuaikan dengan budget dan kebutuhan mereka saja,” tegasnya.
Ia juga menyoroti dampak lingkungan dari proses desalinasi. Limbah garam pekat (brine) dan bahan kimia penjernih dari proses SWRO akan kembali dibuang ke laut dan menjadi beban bagi ekosistem pesisir.
“Garam yang numpuk dalam proses SWRO mau dikemanakan? Pasti dibuang lagi ke laut beserta bahan kimia penjernih yang dipakai. Pasti akan jadi beban kembali bagi laut dan wilayah pesisir. Penyedotan air laut untuk feeding ke SWRO pasti akan menghisap biota laut yang ada di intake pipa penyedotnya,” jelasnya.
Menurut Azhari, persoalan air baru satu aspek. Belum termasuk polusi udara dan kebutuhan energi pembangkit yang sangat besar untuk mengoperasikan SWRO kapasitas besar tersebut.
“Cukup lah. Kita baru cerita air ini, belum polusi udara dan kebutuhan energi pembangkitnya,” tutupnya. (red)











Discussion about this post