Jakarta | beritabatam.co – “Kalau dijadikan istri kedua, mau? Itu kan yang saya mau. Rela gitu.”
Itu jawaban Ayu Aulia ketika ditanya seberapa jauh ia rela berkorban untuk pria yang kini menjabat Bupati Bintan. Ironisnya, cinta tanpa syarat itu berujung pada permintaan menggugurkan bayi kembar tepat sebelum pria itu menikah dengan perempuan lain.
Di tengah pusaran politik yang menyeret nama sang bupati, Ayu membuka kisah yang jauh dari urusan kekuasaan. Bagi dia, kasus ini bukan hanya soal tuntutan keadilan, tapi juga tentang pengorbanan, kebutaan cinta pertama, dan hati yang patah.
Ayu mengaku, di masa lalu pria tersebut bukan pejabat di matanya, melainkan cinta pertama yang membuatnya rela menanggalkan ego dan logika. “Gimana ya… namanya cinta pertama,” ujarnya dengan nada getir.
Bagi sebagian orang pengakuan itu terdengar berlebihan. Tapi Ayu menyebut ia bahkan siap dicap tidak waras demi menyelamatkan pria yang dicintainya.
Ia menegaskan, perasaannya tidak terkait harta, takhta, atau jabatan bupati yang kini disandang pria tersebut. “Saking cinta mati, kalau besok dia nggak jadi pejabat lagi pun, perasaan saya waktu itu nggak akan berubah,” katanya.
Namun pengorbanan itu dibalas luka. Di saat Ayu rela berbagi hati dan menjadi istri kedua, ia justru diminta menggugurkan bayi kembar di kandungannya.
“Yang harusnya ditanya itu istri pertamanya. Kenapa dia bisa rela ada perempuan yang disuruh gugurkan kandungan pas suaminya mau nikah? Kalau aku jadi perempuan saat itu, aku bilang, ‘Lu nikahin juga (Ayu)’. Tunggu itu,” ujarnya tajam.
Kini Ayu berdiri tegak. Ia mengaku tidak mencari panggung, tidak menerima uang suap puluhan juta, dan menolak keras jika dijadikan alat politik pihak mana pun. (Tim)




Discussion about this post