Batam | beritabatam.co – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional Gekrafs Kepulauan Riau menyoroti dua sisi perkembangan ekonomi kreatif di Batam saat ini. Di satu sisi Batam mengalami lompatan besar dalam dukungan infrastruktur digital, namun di sisi lain masih banyak pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah UMKM khususnya di sektor kuliner yang gagap dalam strategi bisnis dan sekadar ikut-ikutan.
Hal itu disampaikan Ketua Gekrafs Kepri Stephane Gerald Martogi Siburian bersama Sekretaris Gekrafs Kepri Rizki Ramadhani dalam dialog bersama RRI Batam, Selasa pagi, (08/09/26).
Stephane mengapresiasi kebijakan Pemerintah Kota Batam dan BP Batam yang dinilai sudah berada di jalur yang tepat dalam mendukung ekosistem kreatif. Salah satu buktinya adalah penataan reklame konvensional menjadi reklame digital atau videotron.
“Ini menjadi kota satu-satunya di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara, yang sudah transformasi ke billboard digital videotron,” ujar Stephane.
Menurutnya gebrakan ini menjadi angin segar bagi pelaku ekonomi kreatif di subsektor periklanan.
Terkait kebutuhan ruang kerja bersama creative hub, Gekrafs menilai hal tersebut belum terlalu mendesak. Kebutuhan ruang kolaborasi itu secara alami sudah terpenuhi oleh julukan Batam sebagai ‘Kota Seribu Kafe’.
Fasilitas kafe yang menjamur di berbagai sudut kota kini beralih fungsi menjadi ruang kerja co-working space yang nyaman bagi para kreator, sekaligus menciptakan perputaran transaksi ekonomi di subsektor kuliner.
Namun di balik ramainya kafe, realita di lapangan menunjukkan tidak sedikit usaha Food and Beverage F&B yang berujung gulung tikar.
Sekretaris Gekrafs Kepri Rizki Ramadhani menilai hal itu terjadi karena ketidakpahaman pelaku usaha terhadap target pasar dan keengganan beradaptasi dengan perkembangan digital.
Ia menegaskan di era sekarang promosi di media sosial seperti TikTok, Facebook, maupun Instagram sudah menjadi keharusan untuk mencari pasar baru. Selain itu kualitas produk seperti rasa dan harga yang kompetitif harus terus dievaluasi.
Stephane mengkritik budaya sebagian masyarakat pekerja di Batam yang membuka usaha hanya dengan mentalitas pendapatan pasif passive income.
Ia mencontohkan kebiasaan pekerja penuh waktu yang menabung hingga Rp50 juta untuk membuka warung atau kafe, namun menyerahkan operasional sepenuhnya kepada sepupu atau saudara tanpa pengawasan langsung.
“Kita menganggap usaha itu sebagai autopilot, pasif income. Ini terlalu banyak nonton motivator, gengsi-gengsi yang baru menang duit di kripto,” kritik Stephane.
Menurutnya, melempar tanggung jawab bisnis kepada orang yang tidak memiliki rasa memiliki sense of belonging adalah kesalahan fatal. Gekrafs mengimbau siapa pun yang memutuskan membangun usaha, terlebih di sektor ekonomi kreatif, harus bersedia bekerja totalitas all out. Pemilik wajib turun langsung untuk menganalisa pergerakan pasar dan perilaku konsumen secara berkala agar usaha bisa bertahan. (Red)










Discussion about this post