Batam | beritabatam.co – Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional Gekrafs Kepulauan Riau menegaskan sektor ekonomi kreatif memiliki peluang besar menjadi penopang tangguh di Kota Batam, meski identitas Batam sebagai kota industri sudah sangat melekat.
Hal itu disampaikan Ketua Gekrafs Kepri Stephane Gerald Martogi Siburian bersama Sekretaris Gekrafs Kepri Rizki Ramadhani dalam dialog bersama RRI Batam, Selasa pagi (08/09/26).
Menurut Stephane, secara umum subsektor unggulan ekonomi kreatif di Kepri memang meliputi kriya, fesyen, dan kuliner.
Namun di Batam, pergerakan Gekrafs justru lebih banyak beririsan dengan dunia digital. Fokusnya mencakup perusahaan rintisan startup, perfilman, animasi, videografi, fotografi, hingga pengembangan aplikasi dan gim.
Data Badan Pusat Statistik bahkan mencatat Batam memiliki sekitar 1.000 pelaku ekonomi kreatif di bidang film, animasi, dan videografi. Angka itu menjadikan Batam sebagai salah satu populasi kreator terbanyak di Indonesia untuk subsektor tersebut.
Keahlian para kreator lokal ini kini mulai terserap oleh sektor manufaktur dan maritim. Kebutuhan dokumentasi profil perusahaan atau pelepasan kapal di galangan yang dulunya harus mendatangkan pekerja dari luar daerah, kini sudah bisa dikerjakan anak-anak Batam.
Meski begitu, mengubah stigma Batam menjadi ‘kota kreatif’ diakui tidak mudah. Sejak era BJ Habibie, cetak biru Batam memang dirancang sebagai kawasan industri. Selain tantangan identitas kota, Rizki Ramadhani juga menyoroti sejumlah persoalan di lapangan berdasarkan hasil pendampingan sejak 2021.
Masih banyak praktisi yang keliru menganggap Gekrafs sebagai lembaga pemerintah, padahal organisasi ini fokus membangun jejaring kerja antarpelaku ekonomi kreatif.
Ia juga melihat banyak pelaku usaha mikro belum memahami target pasar dan belum menjadikan promosi di media sosial sebagai prioritas untuk menjangkau audiens baru.
Pada usaha kuliner, Rizki menyebut banyak pemilik keliru menerapkan sistem pendapatan pasif atau autopilot tanpa mau turun langsung menganalisa dinamika pelanggan. Kondisi itulah yang pada akhirnya sering memicu kebangkrutan.
Untuk menjawab ketatnya kompetisi pasar, Stephane menekankan pentingnya teknik storytelling atau penceritaan di balik sebuah merek.
Ia mencontohkan Air Dohod asal Pulau Penyengat yang memiliki nilai tambah luar biasa di mata wisatawan karena dinarasikan sebagai resep minuman para sultan dan ratu pada masa lampau.
“Melalui penceritaan jenama yang kuat dipadukan dengan optimalisasi jejaring komunitas, kami berharap para pelaku UMKM dan kreator konten digital di Batam dan Kepri dapat terus bertahan serta memajukan ekosistem ekonomi kreatif lokal,” pungkas Stephane. (Ben)










Discussion about this post