Jakarta | beritabatam.co – Persoalan krisis air bersih di Batam yang tak kunjung usai menjadi sorotan tajam. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI, Wakil Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Li Claudia Chandra, blak-blakan soal kondisi infrastruktur air di Batam dan langkah-langkah yang sedang diambil untuk mengatasinya.
Menurutnya, masalah air di Batam adalah masalah infrastruktur yang sudah menahun. Ia mengungkapkan bahwa setelah dilantik, ia mendapati banyak wilayah di Batam yang selama puluhan tahun tidak mendapatkan akses air bersih yang memadai.
“Memang ini (masalah) infrastruktur. Saat kami, setelah kami dilantik, memang banyak wilayah yang memang kemaren-kemaren nggak dikerjakan, Pak,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti bahwa ketergantungan Batam pada tujuh waduk yang ada saat ini sudah tidak lagi memadai, terutama dengan pesatnya perkembangan kota. Ia menekankan bahwa pasokan air di Batam selama ini hanya mengandalkan curah hujan.
“Di Batam itu air itu berharap hanya dari waduk. Di Batam ada 7 waduk, Pak. Kemudian perkembangan Batam yang cepat begitu, memang kami kesulitan air,” ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di Batu Aji, di mana ada warga yang mengaku sudah 20 tahun tidak pernah mendapatkan air yang mengalir. Namun, ia juga mengklaim bahwa dalam tiga hingga empat bulan terakhir, pihaknya telah berupaya memperbaiki keadaan dan air mulai mengalir di beberapa wilayah.
“Kami turun ke daerah namanya Batu Aji. Ada ibu-ibu menyampaikan, ‘Ibu Li, Pak Amsakar, kami sudah 20 tahun tidak pernah mendapat air mengalir.’ Tapi ini 3 bulan, 4 bulan ini, air sudah mengalir,” ceritanya.
Menghadapi keterbatasan pasokan air dari waduk, Li Claudia memaparkan solusi jangka pendek, menengah, dan panjang yang sedang direncanakan BP Batam.
Salah satu solusi yang ditekankan adalah kewajiban bagi investor Data Center yang masuk ke Batam untuk membangun Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
“Makanya, data center masuk, kami mengharuskan data center (menggunakan) SWRO,” tegasnya.
Untuk rencana jangka panjang, BP Batam sedang mengupayakan penarikan air dari Lingga. Ia menyatakan bahwa investor untuk proyek ini sudah ada, namun pihaknya masih meminta investor untuk melakukan kajian lebih lanjut.
Selain itu, BP Batam juga berencana untuk melakukan peremajaan instalasi pipa yang usianya sudah mencapai 50 tahun secara bertahap.
“Kita mulai merapikan, Pak. Mudah-mudahan, Pak. Di zaman kami, banyak yang bisa kami rapikan,” tutupnya dengan nada optimis.
Pernyataan blak-blakan Wakil Kepala BP Batam ini memberikan gambaran tentang tantangan berat yang dihadapi dalam mengatasi krisis air di Batam.
Publik tentu berharap langkah-langkah perbaikan yang dijanjikan dapat segera terealisasi dan memberikan solusi nyata bagi masyarakat yang telah lama kesulitan mendapatkan akses air bersih. (Red)








Discussion about this post