
Batam | beritabatam.co : Kota Batam, Kepulauan Riau masuk dalam daftar lokasi yang dikaji pemerintah pusat untuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Kepastian itu disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Rencana tersebut masih dalam tahap studi dan pemeriksaan sebelum pemerintah menentukan kelayakan lokasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (26/10/26).
Bahlil menegaskan, Batam belum ditetapkan sebagai lokasi pembangunan. Saat ini pemerintah masih berada pada tahap studi kelayakan dan pemeriksaan awal.
“Salah satu studi lokasi yang kita tempatkan, kita akan taruh di Kepri yaitu di Batam untuk bagaimana menopang energi kita. Ini masih dalam kajian dan pemeriksaan,” kata Bahlil.
Selain Batam, pemerintah juga mengkaji Halmahera di Maluku Utara, Kalimantan, dan Sumatra. Untuk Halmahera, pemerintah menjajaki kerja sama teknologi dengan Rosatom, BUMN nuklir asal Rusia.
Masuknya Batam dalam peta kajian nuklir tidak lepas dari ambisi besar menjadikan Batam, Bintan, dan Karimun sebagai hub pusat data (data center) baru Indonesia.
Bahlil mengungkapkan kebutuhan tambahan listrik untuk hub tersebut diproyeksikan mencapai 20 GW atau 20.000 MW, setara 20 persen dari total kapasitas listrik nasional saat ini. Angka ini disampaikan dalam Bali Tech Week 2026 di Denpasar pada 19 Oktober 2026.
Kapasitas pusat data nasional saat ini berada di kisaran 630-637 MW dan diperkirakan melonjak menjadi 11 GW pada 2030, didorong pertumbuhan AI dan cloud computing.
Lokasi Batam yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer dari Singapura sempat memicu pertanyaan. Bahlil menjawab tegas soal kedaulatan.
“Bangsa kita ini tidak boleh diatur-atur sama negara lain. Wilayah kita, kalau kita mau taruh di mana pun, selama memenuhi standar, apa urusannya?” tegas Bahlil.
Pengumuman ini muncul tak lama setelah Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan negaranya serius mengkaji energi nuklir, menyusul keputusan Indonesia memangkas ekspor gas alam ke Singapura sekitar 31 juta kaki kubik per hari.
Menurut Bahlil, Batam dinilai strategis karena berada di jalur perdagangan internasional dan berbatasan langsung dengan Singapura serta Malaysia.
Pemerintah menegaskan keputusan final pembangunan PLTN akan ditentukan setelah hasil feasibility study (FS) selesai. Pemerintah juga disebut telah menjalin kerja sama dengan beberapa negara yang memiliki kemampuan nuklir teruji.
Dewan Energi Nasional (DEN) sebelumnya juga telah memasukkan Batam dalam daftar puluhan lokasi potensial PLTN di Indonesia.
Jika terealisasi, PLTN di Batam akan menjadi pembangkit nuklir pertama yang berada sangat dekat dengan negara tetangga, sekaligus menjadi simbol bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pemasok energi, tetapi pemilik kendali infrastruktur energinya sendiri. (Red)










