
Batam | beritabatam.co – Pariwisata terus menjadi salah satu sektor unggulan penyumbang pendapatan bagi Kota Batam. Letak geografis yang strategis dan berdekatan dengan Singapura serta Malaysia menjadikan Batam destinasi favorit wisatawan mancanegara.
Namun, seiring waktu, tren wisata mengalami pergeseran yang membawa tantangan tersendiri, khususnya bagi industri resort.
Hal ini mengemuka dalam dialog interaktif “Batam Menyapa” di RRI Batam yang mengangkat tema “Menakar Potensi dan Tantangan Industri Resort Masa Kini”, Kamis (22/10/26).
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata Kadin Provinsi Kepri Edi Surbakti, serta perwakilan manajemen Batam View Beach Resort, yaitu Assistant Manager Sales Jerry dan Marketing Communication Executive Margaretha Sofiana.
Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata Kadin Kepri, Edi Surbakti, mengungkapkan bahwa saat ini Batam dan Kepri tengah menikmati lonjakan kunjungan wisatawan asal kawasan ASEAN, khususnya Singapura dan Malaysia. Namun, ia menyoroti adanya perubahan perilaku dari para wisatawan tersebut.
“Batam kini terkenal sebagai kota metropolitan dan tempat belanja yang menjadi tujuan utama wisatawan saat ini. Konsep leisure sedikit dikesampingkan. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis resort yang letaknya relatif jauh dari pusat kota,” jelas Edi.
Kondisi ini, menurut catatan Kadin, turut memicu pertumbuhan City Hotel yang sangat masif di Batam.
Diperkirakan penambahan puluhan City Hotel berbintang 3 hingga 5 akan terus terjadi hingga tahun 2030, berbanding terbalik dengan pertumbuhan resort yang tidak terlalu signifikan akibat besarnya biaya investasi dan operasional.
Untuk menyiasati hal ini, Edi mendorong para pelaku industri resort untuk tidak hanya bergantung pada turis asing di akhir pekan.
“Harus ada terobosan dan inovasi. Jangan hanya menunggu weekend. Hari biasa bisa diisi dengan menarik wisatawan lokal Batam melalui paket-paket dan harga khusus, misalnya paket pertemuan atau acara komunitas,” imbaunya.
Menanggapi tantangan tersebut, manajemen Batam View Beach Resort yang telah berdiri sejak 1986 telah menyiapkan berbagai strategi adaptif. Assistant Manager Sales Batam View, Jerry, mengakui bahwa banyak wisatawan mancanegara yang kini lebih memilih day trip hanya untuk berbelanja.
Untuk menarik minat menginap, Batam View berinovasi dengan menghadirkan fasilitas baru bernama “CG Wellness” yang baru saja diluncurkan pada 18 September lalu.
“Wisatawan Singapura banyak yang mencari fasilitas wellness karena di sana harganya cukup mahal. Kami mengedepankan keseimbangan pikiran dan fisik, seperti fasilitas sound healing dan yoga. Daripada mereka terbang jauh ke Bali, mereka bisa ke Batam dan menikmati relaksasi wellness dengan pemandangan pantai lepas di Batam View,” papar Jerry.
Sementara itu, Marketing Communication Executive Batam View, Margaretha Sofiana, menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan strategi massive selling inside the resort. Manajemen tidak menghalangi niat wisatawan yang ingin berbelanja ke pusat kota, melainkan justru memfasilitasinya.
“Bagi tamu yang menginap, kami tawarkan paket one day tour ke kota. Kami sediakan transportasinya sehingga mereka bisa berbelanja sesuka hati, lalu kembali beristirahat di resort. Ini juga membantu perekonomian warga lokal seperti supir taksi dan toko oleh-oleh,” jelas Margaretha.
Selain mengandalkan turis dari Singapura dan Malaysia, Batam View kini juga mulai kebanjiran tamu dari negara ASEAN lainnya seperti Filipina, Laos, Vietnam, dan Myanmar yang rata-rata menginap selama 3 hari 2 malam.
Manajemen juga sangat mengapresiasi kehadiran wisatawan lokal yang kerap membantu promosi secara sukarela.
“Tamu lokal ini luar biasa karena mereka sering membuat fasilitas kami viral di media sosial dengan ulasan yang positif. Masukan dari mereka juga menjadi bahan evaluasi kami untuk terus meningkatkan standar hospitality,” pungkas Margaretha. (Red)










